Indef Usulkan Kedutaan Besar Jadi Tombak Perluas Pasar Ekspor

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo meresmikan pencapaian ekspor kendaraan secara utuh (completely built-up/CBU) milik Toyota yang mencapai 1 juta unit dari berbagai varian di IPC Car Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (5/9) Sepanjang Januari-Juli tahun ini, TMMIN mengekspor 117.200 unit, naik 1,3% dari periode yang sama tahun lalu. Kontribusi terbesar disumbang varian SUV Fortuner sebanyak 30.900 unit, diikuti Avanza 21.900 unit, Agya 17 ribu unit, Vios 15.800 unit, dan Rush 12.700 unit. Tempo/Tony Hartawan

    Presiden Joko Widodo meresmikan pencapaian ekspor kendaraan secara utuh (completely built-up/CBU) milik Toyota yang mencapai 1 juta unit dari berbagai varian di IPC Car Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (5/9) Sepanjang Januari-Juli tahun ini, TMMIN mengekspor 117.200 unit, naik 1,3% dari periode yang sama tahun lalu. Kontribusi terbesar disumbang varian SUV Fortuner sebanyak 30.900 unit, diikuti Avanza 21.900 unit, Agya 17 ribu unit, Vios 15.800 unit, dan Rush 12.700 unit. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adinegara meminta pemerintah untuk mengoptimalkan fungsi kedutaan besar sebagai misi dagang untuk menggenjot ekspor. Sebab selama ini kedutaan besar Indonesia dan atase perdagangan internasional untuk membuka pasar masih belum optimal.

    Baca: Menperin Ingin Ekspor Otomotif Kurangi Defisit Transaksi Berjalan

    "Kalau dilihat target-target dari duta besar untuk melakukan penetrasi pasar yang sudah ada, tapi membuka pasar alternatif yang baru itu belum terlihat terlihat kurang kencang," kata Bhima saat menjadi pembicara dalam sebuah diskusi bertajuk "Jurus Jitu Jagain Rupiah" di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu, 8 September 2018.

    Pernyataan Bhima tersebut disampaikan untuk mengurangi defisit transaksi berjalan yang sekarang melebar. Adapun merujuk data Bank Indonesia, pada triwulan kedua 2018 neraca perdagangan Indonesia tercatat defisit sebesar US$ 4,3 miliar. Neraca dagang yang defisit tersebut dipengaruhi oleh meningkatkan defisit transaksi berjalan menjadi 3 persen dari triwulan sebelumnya 2,2 persen.

    Menurut Bhima, jika strategi kedutaan besar untuk membuka pasar tersebut bisa berjalan hal ini bisa mendongrak pertumbuhan ekspor. Ekspor yang tumbuh tentunya bisa mengimbangi defisit transaksi berjalan yang kini masih menjadi persoalan.

    Bhima berujar strategi ini juga bisa menjadi usaha jangka panjang bagi pemerintah untuk menjaga keseimbangan neraca perdagangan. "Kalau ingin ekspor nendang harus lebih agresif lagi di titik vokal poin kedutaan untuk mencari calon buyer guna peningkatan ekspor di tahun-tahun mendatang," kata Bhima.

    Selain itu, untuk mengurangi defisit transaksi pemerintah perlu juga memikirkan strategi untuk mengurangi ketergantungan minyak. Misalnya dengan mempercepat konversi minyak ke gas, karena gas kita masih cukup bagus.

    Kemudian pemerintah juga perlu memikirkan untuk mulai mempercepat masuknya energi terbarukan. Salah satunya dengan membuat ladang solar sel. "Jadi ke depannya kita harus melepas ketergantungan impor minyak ini yang tidak sehat," kata Bhima.

    Menurut Bhima, langkah-langkah tersebut bisa membantu pemerintah untuk meningkatkan ekspor dan memperbaiki neraca dagang. Harapannya dengan ekspor yang meningkat pasokan dollar Amerika Serikat bisa juga meningkat sehingga mengurangi dampak bagi pelemahan rupiah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menimbun Kalori Kue Lebaran, seperti Nastar dan Kastengel

    Dua kue favorit masyarakat Indonesia saat lebaran adalah nastar dan kastangel. Waspada, dua kue itu punya tinggi kalori. Bagaimana kue-kue lain?