Kurs Rupiah Kembali Menguat, BI: Ini Karunia Allah

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang lansia menunjukkan sejumlah uang rupiah terbaru setelah menukarnya di loket mobil Bank Indonesia di Pasar Minggu, Jakarta, 21 Desember 2016. Bank Indonesia menurunkan mobil kas keliling untuk melayani penukaran uang rupiah emisi 2016 ke pasar-pasar. Tempo/Dian Triyuli Handoko

    Seorang lansia menunjukkan sejumlah uang rupiah terbaru setelah menukarnya di loket mobil Bank Indonesia di Pasar Minggu, Jakarta, 21 Desember 2016. Bank Indonesia menurunkan mobil kas keliling untuk melayani penukaran uang rupiah emisi 2016 ke pasar-pasar. Tempo/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO, Jakarta - Nilai tukar rupiah berakhir menguat pada perdagangan hari ini, Jumat, 7 September 2018. Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah ditutup dengan penguatan 73 poin atau 0,49 persen ke level Rp 14.820 per dolar Amerika Serikat, setelah pada awal perdagangan dibuka di zona hijau dengan penguatan 45 poin atau 0,3 persen di posisi 14.893.

    Baca juga: Rupiah Diprediksi Kembali Menguat terhadap Dolar AS Hari Ini

    Adapun pada perdagangan Kamis, 6 September 2018, rupiah ditutup menguat 45 poin atau 0,3 persen ke level Rp 14.893 per dolar AS. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak pada kisaran Rp 14.820-14.907 per dolar AS.

    Rupiah membukukan kenaikan terbesar di antara mata uang lain di Asia. Menyusul rupiah, rupee India menguat 0,33 persen, peso Filipina naik 0,27 persen, dan won Korea Selatan terapresiasi 0,09 persen.

    Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan penguatan rupiah sebagai hasil dari langkah konkret BI dan pemerintah dalam menurunkan defisit transaksi berjalan. Selain itu, likuiditas valas mulai berjalan sesuai dengan mekanisme pasar.

    "Ini karunia Allah untuk kita, rupiahnya stabil menguat. Kita telah melakukan langkah konkret untuk menurunkan defisit transaksi berjalan," ujar Perry, Jumat.

    Dia menggarisbawahi bahwa pemerintah juga telah melakukan sejumlah langkah, seperti kebijakan B20 dan pembatasan impor melalui penyesuaian beberapa pos tarif barang konsumsi, serta beberapa langkah terkait dengan pariwisata yang akan dilakukan.

    BI meyakini hal tersebut juga akan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah ke depan. Dalam kesempatan ini, BI mengapresiasi pengusaha yang mempunyai devisa atau valas juga menjual valas.

    "Ini menambah supply di pasar dua hari ini, supply demand berlangsung, bagian penting mengenai nilai tukar rupiah yang stabil," ucap Perry.

    Penguatan rupiah juga sejalan dengan gerak indeks dolar AS. Indeks yang melacak pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama ini terpantau melemah 0,09 persen atau 0,09 poin ke level 94,931 pada pukul 17.09.

    Sebelumnya, indeks dolar dibuka turun 0,086 poin atau 0,09 persen di level 95,098, setelah pada perdagangan Rabu berakhir melemah 0,27 persen atau 0,255 poin di posisi 95,184.

    Dilansir Reuters, pelemahan dolar AS memberikan ruang bagi mata uang emerging markets setelah awal yang buruk pada pekan ini, meskipun masih dihantui ketegangan perdagangan. Pasar emerging market telah bergolak akibat aksi jual yang dimulai dengan krisis ekonomi di Turki dan Argentina. Afrika Selatan, yang secara tak terduga jatuh ke dalam resesi minggu ini, menambah sentimen negatif. Sedangkan investor juga mengamati data tenaga kerja Amerika yang akan dirilis.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Pangkas 5 Hari Cuti Bersama 2021 dari 7 Hari, Tersisa 2 Hari

    Pemerintah menyisakan 2 hari cuti bersama 2021 demi menekan lonjakan kasus Covid-19 yang biasa terjadi usai libur panjang.