Rabu, 14 November 2018

Luhut Panjaitan Jelaskan Detail Alur Pelemahan Rupiah

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan usai Afternoon Tea dengan media di kantornya, Rabu, 1 Agustus 2018. Tempo/Hendartyo Hanggi

    Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan usai Afternoon Tea dengan media di kantornya, Rabu, 1 Agustus 2018. Tempo/Hendartyo Hanggi

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menyampaikan sejumlah penjelasan terkait pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Luhut mengatakan dirinya sangat paham kondisi ini lantaran merupakan bagian dari tim ekonomi Indonesia.

    Baca: Efek Rupiah Melemah, Impor Porsche Hingga Ferrari Bakal Distop

    Tim ini beranggotakan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution; Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Wimboh Santoso "Topik ini sudah kami bicarakan secara intens sejak tiga minggu yang lalu," kata Luhut dalam tulisannya yang diterima Tempo, Kamis, 6 September 2018.

    Menurut dia, kondisi yang dialami Indonesia saat ini terjadi akibat faktor eksternal yang terjadi di dunia global. Perbaikan pertumbuhan ekonomi dunia sekarang tengah terancam oleh perang dagang yang dimulai oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap mitra dagang seperti Cina, Uni Eropa, Meksiko dan Kanada.

    Cina yang menjadi target utama Trump akhirnya harus melakukan depresiasi terhadap mata uang Yuan untuk mempertahankan harga barang ekspor mereka di pasar Amerika. Akibatnya, mata uang negara berkembang ikut mengalami depresiasi, tak terkecuali Indonesia. Selain itu, nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp 15.000 per dollar Amerika Serikat juga semakin terpengaruh akibat krisis yang terjadi di beberapa negara berkembang seperti Turki.

    Untuk menghadapi kondisi ini, pemerintah berupaya mengurangi defisit neraca pembayaran. Sepanjang Januari hingga Juli 2018, kata Luhut, impor tumbuh kencang sampai 24 persen atau lebih tinggi dari ekspor yang hanya 11,35 persen.Akibatnya.defisit pada tahun ini mencapai US$ 25 miliar atau lebih tinggi dari tahun 2017 yang hanya US$ 17,5 miliar.

    Pemerintah, kata Luhut, juga berupaya mengurangi impor, meningkatkan penggunaan komponen dalam negeri dalam kegiatan produksi oleh industri, hingga perbaikan pada sektor pariwisata. Dengan langkah-langkah ini, ia yakin struktur ekonomi Indonesia di masa mendatang bisa diperbaiki.

    Untuk itu, Luhut meminta semua pihak tidak panik menghadapi situasi pelemahan kurs rupiah saat ini. Upaya pemerintah dalam menghadapi kondisi global yang tidak menentu ini, kata dia, juga tidak perlu diragukan. "Kalaupun saya kurang mengerti, anak-anak muda di tim saya banyak yang sangat paham dengan angka-angka dan kami mengerjakannya dengan sepenuh hati," ujarnya,.

    Mudah-mudahan dengan tulisan yang agak panjang lebar ini, kata Luhut, semua pihak mendapatkan pemahaman yang lebih baik lagi mengenai keadaan Indonesia.

    Simak berita tentang rupiah hanya di Tempo.co


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Karier Stan Lee, Maestro Legendaris Marvel

    Pencipta komik superhero Marvel Comics, Stan Lee, meninggal akibat pneumonia di usia 95 tahun, Senin, 12 November 2018