Rupiah Melemah, Menteri Enggar Yakin Inflasi Tak Melonjak Sebab..

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita memantau harga telur ayam yang turun jadi Rp 22.000 per kg dari semula Rp 26.000 per kg saat sidak di Pasar Astanaanyar, Bandung, Jumat, 1 Juni 2018. TEMPO/Prima Mulia

    Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita memantau harga telur ayam yang turun jadi Rp 22.000 per kg dari semula Rp 26.000 per kg saat sidak di Pasar Astanaanyar, Bandung, Jumat, 1 Juni 2018. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita meyakini melemahnya nilai tukar rupiah tidak akan memengaruhi angka inflasi beberapa bulan ke depan. "InsyaAllah enggak, makanya itu kami kendalikan," ujar Enggartiasto di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis, 6 September 2018.

    Baca: Sri Mulyani Sebut Kenaikan Pajak untuk Cegah Lonjakan Impor

    Enggartiasto berujar komoditas yang sangat diperhatikan untuk mengendalikan angka inflasi dalam negeri antara lain adalah beras, gula, dan minyak goreng. "Itu yang volatile," kata dia. Selain itu, pemerintah juga terus mengendalikan harga daging ayam dan telur agar tidak melambung. Badan Pusat Statistik sebelumnya mengumumkan deflasi nasional Agustus 2018 sebesar 0,05 persen. 

    Ihwal angka inflasi itu menjadi topik yang diperbincangkan dalam rapat koordinasi pangan yang melibatkan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik, dan Satuan Tugas Pangan, di Kantor Kemenko Perekonomian, hari ini. Dalam rapat kali ini Enggartiasto kembali meminta Bulog menyiapkan operasi pasar beras.

    Hanya saja, operasi pasar yang ia maksudkan bukan dalam artian Bulog menjual beras di depan pasar seperti yang lazim dilakukan. "Tetapi pedagang beras di pasar itu menjual beras Bulog," kata Enggartiasto. "Beras adalah makanan utama dan itu jadi perhatian khusus." 

    Saat ini, kata Enggartiasto, stok beras Bulog adalah sebanyak 2,2 juta ton. Adapun 820 ribu ton di antaranya adalah beras dalam negeri.

    Pemerintah sebelumnya menyebutkan adanya tambahan kuota impor beras sebesar 1 juta ton yang merupakan bagian dari kebijakan impor sebanyak 2 juta ton yang diputuskan dalam rapat koordinasi tingkat Kementerian Koordinator Perekonomian yang dihadiri oleh Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, Bulog, dan Badan Pusat Statistik. “Keputusan final pada April lalu,” ujarnya, Selasa, 28 Agustus 2018.

    Enggartiasto menjelaskan, pemerintah memberi izin kepada Bulog untuk mengimpor beras lantaran produksi beras pada 2017 meleset dari target. Stok beras lokal milik Bulog menyusut menjadi hanya 800 ribu ton per Juli lalu. Padahal batas aman untuk stok beras Bulog dan cadangan beras pemerintah harus minimal 1,5 juta ton.

    Baca: Terpuruk Berhari-hari, Rupiah Menguat 48 Poin Jadi 14.880

    Kementerian Pertanian sesungguhnya memprediksi produksi beras pada tahun ini bakal surplus sebesar 13,03 juta ton. Perkiraan surplus tersebut dihitung dari target produksi gabah sebesar 80 juta ton atau 46,5 juta ton setara beras, sementara total konsumsi beras nasional diperkirakan hanya 33,47 juta ton. Akan tetapi Kementerian Perdagangan ragu akan hal tersebut karena realisasi tahun lalu juga tak mencapai target.

    PUTRI ADITYOWATI | ANDI IBNU

    Simak berita menarik lainnya terkait rupiah hanya di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Permohonan Pengembalian Biaya Perjalanan Ibadah Haji 2020

    Pemerintah membatalkan perjalanan jamaah haji 2020. Ada mekanisme untuk mengajukan pengembalian setoran pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji.