Jumat, 16 November 2018

Net Sell Asing Rp 1,9 T, BEI: Investor Percaya Fundamental RI

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tampilan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (24/10/2017).Foto Agung Rahmadiansyah/Tempo

    Tampilan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (24/10/2017).Foto Agung Rahmadiansyah/Tempo

    TEMPO.CO, Solo - Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan investor asing masih percaya terhadap kondisi perekonomian di Indonesia di tengah pelemahan mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). "Memang indeks tertekan dengan adanya pelemahan rupiah ini. Yang sebelumnya IHSG di posisi 6.000 saat ini turun hingga penutupan kemarin 5.600," kata Kepala BEI Surakarta M. Wira Adibrata di Solo, Kamis, 6 September 2018.

    Baca: Kurs Rupiah Kian Jeblok, BEI: Kita Tidak Sedang dalam Krisis

    Wira menjelaskan, ada sisi positif yang bisa dilihat, yaitu meski ekonomi dalam negeri melemah, investor asing masih masuk. "Memang kalau dilihat kemarin net sell investor asing Rp 1,9 triliun. Tetapi dari transaksi yang kami lihat, investor asing beberapa kali masuk," ucapnya.

    Artinya, kata Wira, para investor asing masih percaya terhadap perusahaan di Indonesia. "Mereka percaya fundamental ekonomi Indonesia. Ini momentum mereka masuk ke pasar. Jika sebelumnya dengan 1 dolar AS hanya bisa beli sedikit, saat ini mereka makin gede dapatnya," tuturnya.

    Lebih jauh, Wira menyebutkan, selama ini rata-rata transaksi harian di kisaran Rp 6-7 triliun. Adapun lebih dari separuh atau 51 persen di antaranya merupakan transaksi investor dalam negeri, sedangkan sisanya adalah investor asing.

    Sementara itu, Wira tidak memungkiri saat ini kondisi perekonomian di dalam negeri cukup berat. Meski begitu, kabar baiknya, pelemahan ini tidak hanya terjadi Indonesia, tapi juga di banyak negara lain. "Bahkan secara makro pelemahan ekonomi malah kita tidak masuk di daftar negara-negara dengan pelemahan ekonomi terparah," katanya.

    Terkait dengan hal itu, Wita menilai pemerintah, dalam hal ini Bank Indonesia (BI), sudah melakukan langkah tepat dengan menaikkan seven-day reverse repo rate atau suku bunga acuan dari 5,25 persen menjadi 5,5 persen. "Kenaikan suku bunga acuan ini sudah relevan dengan kondisi perekonomian saat ini. Kalau tidak dinaikkan, akan lebih parah lagi rupiahnya," katanya.

    Sebelumnya, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Bursa Efek Indonesia (BEI) Laksono Widodo menilai tren pelemahan nilai tukar rupiah belakangan ini tak semata-mata mencerminkan kondisi perekonomian dalam negeri. Pelemahan kurs rupiah hingga mendekati level Rp 15 ribu per dolar AS hari ini, menurut Laksono, juga terjadi pada mata uang negara lain. 

    Terlebih, menurut Laksono, karena pelemahan nilai tukar rupiah tidak linear dengan yang terjadi di pasar saham. "Kita serahkan kepada investor, kita tidak sedang dalam kondisi krisis," kata Laksono, Selasa, 4 September 2018. 

    Baca: BEI: Fundamental Pasar Modal Menunjukkan Perbaikan

    Laksono menjelaskan, BEI juga menilai fundamental pasar modal dalam negeri menunjukkan perbaikan seiring dengan laporan keuangan perusahaan publik atau emiten yang mengalami perbaikan. "Kalau kami lihat, laporan keuangan perusahaan publik periode Juni semua menunjukkan perbaikan, itu juga menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia yang bagus," ujarnya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kalender Lengkap Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama 2019

    Pemerintah telah merilis jadwal soal hari libur nasional dan cuti bersama tahun 2019. Sudah siap merancang kegiatan untuk mengisi libur?