Sri Mulyani Naikkan Pajak Impor Mobil Mewah Hingga 190 Persen

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah mobil mewah milik tersangka Bupati Hulu Sungai Tengah (nonaktif) Abdul Latif yang disita KPK, di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, 19 Maret 2018. Sebanyak 16 kendaraan mewah sitaan KPK dari Kalimantan Selatan yang diduga hasil gratifikasi serta pencucian uang tersangka tersebut telah tiba di Jakarta. Foto: Humas KPK

    Sejumlah mobil mewah milik tersangka Bupati Hulu Sungai Tengah (nonaktif) Abdul Latif yang disita KPK, di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, 19 Maret 2018. Sebanyak 16 kendaraan mewah sitaan KPK dari Kalimantan Selatan yang diduga hasil gratifikasi serta pencucian uang tersangka tersebut telah tiba di Jakarta. Foto: Humas KPK

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah telah resmi mengumumkan penyesuaian tarif pajak penghasilan (PPh) pasal 22 impor untuk 1.147 komoditas barang konsumsi, Rabu, 5 September 2018. Salah satu komoditas yang terkena penyesuaian kebijakan tarif PPh 22 tersebut adalah barang mewah, seperti mobil mewah yang diimpor utuh (completly built up/CBU) dan motor besar

    PPh 22 yang semula dikenakan dalam rentang antara 2,5 persen hingga 7,5 persen akan dinaikkan semuanya menjadi menjadi 10 persen. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati beralasan bahwa kebijakan tersebut harus diambil karena ada urgensi untuk menjaga neraca dagang Indonesia agar tidak semakin defisit, di tengah situasi global yang tidak menentu seperti saat ini.

    Baca juga: Naikkan 1.147 Pajak Barang Impor, Sri Mulyani: Situasi Tak Biasa

    Apalagi, impor mobil mewah juga turut berkontribusi cukup besar dalam mendorong pelonjakan defisit neraca perdagangan saat ini di mana nilai im pornya dari Januari-Agustus 2018 sudah mencapai US$ 87,88 juta.

    "Di tengah situasi seperti saat ini. Untuk mobil mewah, itu adalah barang mewah yang sama sekali tidak penting bagi Republik ini, iya benar kan. Total impornya mencapai US$ 87,88 juta (Januari - Agustus 2018) untuk barang ini," kata Sri Mulyani, Rabu, 5 September 2018.

    Selain menyesuaikan tarif PPh 22 menjadi 10 persen tersebut, pemerintah juga tetap mengenakan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) sebesar 10-125 persen. Lalu Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10 persen.

    Untuk pajak Bea Masuk, dari yang semula pada rentang angka 10 persen, 40 persen dan 50 persen juga dilakukan penyesuaian hingga seluruhnya menjadi 50 persen. Dengan demikian, setelah adanya kenaikan PPh 22 menjadi 10 persen serta ditambah komponen pajak lainnya tersebut, total pajak yang dikenakan bisa mencapai sekitar 195 persen.

    Pemerintah berharap dengan pengenaan pajak yang tinggi itu dapat berdampak pada pengurangan impor karena harganya bisa naik hingga tiga kali lipat. "Jadi mereka harus membayar itu kira-kira hampir 190 persen dari harganya. Itu diharapkan bisa mengurangi keinginan untuk mobil impor mobil mewah, karena harganya akan menjadi tiga kali lipat dari asalnya," ujar Sri Mulyani.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?