Kamis, 20 September 2018

Pra Rapat IMF - World Bank, Strategi Mitigasi Bencana Disiapkan

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • (ki-ka) Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde, Menteri Keuangan Sri Mulyani, dan Gubernur BI Agus Martowardojo memukul tifa bersama saat membuka Konferensi Internasional Tingkat Tinggi di Jakarta, 27 Februari 2018. Konferensi bertema Models in a Changing Global Landscape itu yang merupakan rangkaian dari IMF-World Bank Annual Meetings 2018. TEMPO/Tony Hartawan

    (ki-ka) Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde, Menteri Keuangan Sri Mulyani, dan Gubernur BI Agus Martowardojo memukul tifa bersama saat membuka Konferensi Internasional Tingkat Tinggi di Jakarta, 27 Februari 2018. Konferensi bertema Models in a Changing Global Landscape itu yang merupakan rangkaian dari IMF-World Bank Annual Meetings 2018. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Panitia Nasional Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group Adi Budiarso mengatakan pemerintah melalui panitia penyelenggara telah menyiapkan strategi mitigasi bencana untuk menyambut perhelatan pelaksanaan Annual Meeting IMF - World Bank Group di Nusa Dua, Bali pada Oktober 2018.

    Baca juga: Menjelang IMF-World Bank, Luhut Pastikan Kondisi Bali Aman

    "Mitigasi sudah siap, rencana evakuasi dan risk management kita juga sudah siap," kata Adi saat mengelar diskusi dengan media di Gedung Bank Indonesia, Kebon Sirih, Jakarta Selatan, Rabu, 5 September 2018.

    Pertemuan IMF-World Bank dibayangi oleh serangkaian kejadian bencana selama setahun terakhir. Mulai dari erupsi Gunung Agung pada Juni 2018 hingga gempa Lombok di Nusa Tenggara Barat pada Agustus 2018 lalu.

    Adi mengatakan untuk memastikan kegiatan berjalan lancar pemerintah telah beberapa kali melalukan cek struktur bangunan di sana. Menurut perhitungan Adi, cek struktur bangunan telah dilakukan dua kali baik atas inisiatif panitia maupun permintaan IMF dan World Bank. Hal ini, kata dia, dilakukan mengingat gempa telah terjadi beberapa kali di sekitar Bali.

    Adi melanjutkan panitia juga menyiapkan beberapa rooftop atau atap-atap bangunan yang bisa dimanfaatkan untuk menghindari jika terjadinya air bah saat tsunami. Dari 21 hotel yang menjadi lokasi tinggal peserta sebanyak 11 di antaranya sudah memenuhi tipe rooftop untuk atasi tsunami setinggi 3-6 meter.

    "Semua sudah kita berikan alert dan signage supaya misal terjadi untuk naik ke atas (rooftop)," kata Adi.

    Saat ini pemerintah daerah bersama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana juga telah mengoperasikan sirene sebagai penanda adanya bahaya. Menurut Adi, sirene ini telah diujicoba sejak akhir tahun lalu.

    Adi mengatakan, menghadapi kemungkinan terjadinya erupsi Gunung Agung pemerintah akan terus memantau dan memonitor aktivitas vulkanik di sana. Menurut Adi, dari hasil studi yang telah dilakukan, abu hasil erupsi diprediksikan tak akan jatuh di wilayah pertemuan yakni di area Nusa Dua.

    Adi berujar, potensi gangguan terbesar jika terjadi erupsi adalah gangguan asap terhadap aktivitas penerbangan. Skenario terburuk, panitia telah menyiapkan total empat Kapal KRI untuk melakukan evakuasi jika nantinya terjadi hal yang tak diinginkan.

    "Dua KRI stand by, total sudah ada 4 yang disiapkan. Masing-masing KRI bisa mengangkut 2.500 orang," kata Sekretaris Panitia Nasional Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group tersebut.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Salah Tangkap, Penangkapan Terduga Teroris, dan Pelanggaran HAM

    Sejak insiden Mako Brimob Kelapa Dua pada Mei 2018, Polri tak mempublikasi penangkapan terduga teroris yang berpotensi terjadi Pelanggaran HAM.