Kurs Dolar AS Menguat, Perajin Tahu dan Tempe Kelimpungan

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana sejumlah pekerja saat membuat tahu dan tempe di pabrik tahu rumahan di Jakarta, 10 Juni 2015. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Suasana sejumlah pekerja saat membuat tahu dan tempe di pabrik tahu rumahan di Jakarta, 10 Juni 2015. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.CO, Bojonegoro - Terus menguatnya kurs dolar AS terhadap rupiah membuat para perajin tahu dan tempe di Kabupaten Bojonegoro dan Lamongan kelimpungan. Pasalnya bahan baku tahu dan tempe yang selama ini kebanyakan merupakan produk impor yaitu kedelai naik harganya hingga menjadi Rp 7.500 dari sebelumnya hanya Rp 6.500 per kilogram. 

    Baca: Rupiah Melemah, Kurs Jual Tembus Rp 15 Ribu per Dolar AS

    Untuk menyiasati naiknya harga kedelai, sejumlah perajin menggunakan berbagai cara, di antaranya dengan mengurangi ukuran serta takaran pembuatan tahu dan tempe. Ada juga yang berencana menaikkan harga makanan tersebut.

    Di pasaran, kedelai yang naik harganya terutama impor dari Amerika. Perajin tempe dan tahu lebih memilih kedelai impor karena bentuknya besar. Sedangkan kedelai jenis lokal lebih kecil dan kualitasnya kalah bagus dibanding kedelai impor. Selain itu, tempe dan tahu berbahan baku kedelai impor lebih padat.

    Menurut Yatno, perajin sekaligus penjual tahu dan tempe di Kelurahan Ledok Kulon, Kota Bojonegoro, mengaku sudah terbiasa dengan naiknya kedelai. Langkah yang ditempuh yaitu dengan mengurangi takaran tetapi tidak menaikkan harga jualnya.

    Namun, kata Yatno, jika nanti harga kedelai terus naik, maka perajin sekaligus penjual tahu dan tempe bakal menaikkan harga tahu dan tempe di pasaran.”Untuk sementara harganya tetap, tapi takaran dikurangi,” ujarnya pada Tempo Rabu 5 September 2018.

    Hal serupa juga dikatakan perajin tempe asal Desa Tritunggal Kecamatan Babat Lamongan. Menurutnya, untuk sementara harga temped an tahu yang diproduksinya, tidak dinaikkan. Alasannya, sebagai upaya mempertahankan pelanggan yang membeli barangnya tidak pindah ke tempat lain. ”Kita ambil untung sedikit. Tapi, kalau kedelai terus naik, kita terpaksa ikut harga pasar,” ucap pria yang mengaku tiap hari harus menyediakan kedelai minimal 200 kilogram per hari untuk bahan baku pembuatan tempe.

    Terkait keberadaan kedelai, Hadi, petani asal Kecamatan Kapas, Bojonegoro meminta agar pemerintah menyediakan benih kedelai kualitas unggulan. Tepatnya kedelai yang tepat untuk bahan baku tempe dan tahu. Selama ini, varietas kedelai yang ditanam, masih kalah dengan kedelai impor dari Amerika. ”Ya, akhirnya mereka (perajin tahu-tempe) mengandalkan kedelai impor,” ucapnya.

    Baca: Rupiah Jeblok, Jokowi: Karena Faktor Eksternal Bertubi-tubi

    Dalam situs resmi Bank Indonesia tercatat kurs jual rupiah melemah, bahkan pada siang hari ini kurs jual rupiah mencapai level Rp 15.002 per dolar AS. Sementara kurs beli berada di Rp 14.852 per dolar AS. Sementara Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR mencatat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencapai Rp 14.972 per dolar AS.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Drone Pemantau Kerumunan dari Udara selama Wabah Covid-19

    Tim mahasiswa Universitas Indonesia merancang wahana nirawak untuk mengawasi dan mencegah kerumunan orang selama pandemi Covid-19.