Selasa, 23 Oktober 2018

Rupiah Jeblok, Jokowi: Karena Faktor Eksternal Bertubi-tubi

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo meresmikan pencapaian ekspor kendaraan secara utuh (completely built-up/CBU) milik Toyota yang mencapai 1 juta unit dari berbagai varian di IPC Car Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Rabu, 5 September 2018. Tempo/Tony Hartawan

    Presiden Joko Widodo meresmikan pencapaian ekspor kendaraan secara utuh (completely built-up/CBU) milik Toyota yang mencapai 1 juta unit dari berbagai varian di IPC Car Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Rabu, 5 September 2018. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengatakan bahwa pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS tidak hanya dialami Indonesia. Jebloknya nilai tukar mata uang juga disebut terjadi di sejumlah negara.

    Baca: Kebijakan Ekonomi Jokowi Diragukan, Darmin: Bencana Banget Pandangannya

    "Ini faktor eksternal yang bertubi-tubi baik yang berkaitan dengan kenaikan suku bunga di AS, baik yang berkaitan dengan perang dagang AS dan Cina, baik yang berkaitan dengan krisis di Turki dan Argentina," kata Jokowi di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu, 5 September 2018.

    Untuk mengantisipasi pelemahan rupiah, Jokowi mengatakan bahwa pemerintah sudah melalukan koordinasi di sektor fiskal, moneter, industri, dan pelaku-pelaku usaha. Menurut dia, koordinasi yang kuat menjadi kunci agar berjalan segaris.

    "Dan kuncinya ada dua, di investasi yang harus meningkat dan ekspor yang harus meningkat juga. Sehingga kita bisa menyelesaikan defisit transaksi berjalan. Kalau ini selesai, itu akan menyelesaikan semuanya," kata Jokowi.

    Jokowi mengaku sudah memberikan target selama satu tahun agar ada perubahan dalam menyelesaikan defisit transaksi berjalan. Salah satunya yang telah berproses adalah menggenjot pemakaian BBM B-20 untuk mengurangi impor minyak.

    Melalui penggunaan solar dengan campuran minyak kelapa sawit sebesar 20, Jokowi memperkirakan dapat menghemat US$ 5-6 miliar. "Kemudian kalau CPO kita pakai sendiri untuk B-20 maka suplai ke pasar turun, sehingga kami harapkan harga CPO juga naik. Ini sudah merangkak naik," kata dia.

    Baca: Minta Impor Disetop, Jokowi: Saya Gak Main-main

    Selanjutnya, Jokowi menekankan pemakaian tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Ia menyampaikan bahwa kementerian maupun swasta dan BUMN harus memperhatikan konten lokal. "Kalau kita bisa pakai semuanya komponen dalam negeri akan ada penghematan US$ 2-3 miliar," ucapnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Laporan Sementara Dampak Gempa Palu per 20 Oktober 2018

    Laporan sementara dampak Gempa Palu per daerah tingkat II pasca gempa dan tsunami Sulawesi tengah di lima sektor sampai 20 Oktober 2018.