Minggu, 23 September 2018

Rupiah Loyo, JK Imbau Masyarakat Tak Beli Ferrari dan Tas Hermes

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Jusuf Kalla berbuka puasa bersama pengurus Dewan Masjid Indonesia (MDI) di Istana Wakil Presiden, Jakarta, 25 Mei 2018. Foto: Biro Pers Wakil Presiden

    Wakil Presiden Jusuf Kalla berbuka puasa bersama pengurus Dewan Masjid Indonesia (MDI) di Istana Wakil Presiden, Jakarta, 25 Mei 2018. Foto: Biro Pers Wakil Presiden

    TEMPO.CO, Jakarta - Terkait pelemahan kurs rupiah yang terjadi belakangan ini, Wakil Presiden Jusuf Kalla atau JK mengimbau agar masyarakat ikut berhemat misalnya dengan tidak membeli barang-barang mewah yang diimpor dari luar negeri. Penghematan ini dinilai bisa jadi cara efektif untuk mendukung pemerintah yang tengah berupaya defisit neraca perdagangan agar kurs rupiah bisa kembali stabil.

    Baca: Jokowi Kembali Panggil Menteri Ekonomi Bahas Pelemahan Rupiah

    JK menyebutkan cara mengurangi defisit di antaranya bisa dilakukan dengan meningkatkan ekspor dan mengurangi impor yang tidak perlu. "Tak usah Ferrari, Lamborghini masuk dalam negeri. Tak usah mobil-mobil besar yang mewah-mewah, tak usah parfum mahal atau tas Hermes," katanya di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Selasa, 4 September 2018.

    Di tengah perekonomian yang sedang sulit ini, menurut JK, masyarakat sebaiknya tidak perlu membeli barang-barang mewah apalagi yang harus diimpor. Seiring dengan itu, pemerintah juga terus mendorong agar nilai ekspor bisa surplus.

    Setidaknya, kata JK, pada akhirnya selisih nilai ekspor dan impor bisa tidak jauh. "Nah contohnya bagaimana meningkatkan ekspor sumber daya alam, bagaimana pemakaian juga mengurangi impor kita, seperti yang dibicarakan dulu bagaimana biodiesel bagaimana lokal content produk kita makin besar," ujarnya.

    JK menjelaskan, selama ini banyak barang dalam negeri yang diekspor, namun dananya disimpan di luar negeri, seperti Singapura dan Hong Kong. Sehingga, cara seperti itu lah yang justru kerap melemahkan nilai rupiah.

    Pergerakan rupiah siang ini mulai menguat di kisaran Rp 14.770 pada pukul 11.40 WIB. Pada pembukaan perdagangan yang dilihat dari aplikasi RTI, rupiah dibuka di angka Rp 14.810 per dolar Amerika Serikat. Tercatat pergerakan rupiah siang ini sempat menyentuh nilai Rp 14.849 per dolar AS. Sedangkan nilai terkuat menyentuh Rp 14.760 per dolar AS.

    Adapun defisit transaksi berjalan mencapai US$ 8 miliar pada kuartal II di 2018 atau sekitar 3 persen dibandingkan dengan PDB Indonesia yang mencapai Rp 3.684 triliun pada kuartal II di 2018. Menurut Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution, defisit transaksi berjalan Indonesia masih lebih kecil dibandingkan dengan Brasil, Turki dan Argentina.

    Baca: Rupiah Menuju Rp 15.000, Ekonom Ingatkan Bahaya Ini ke Pengusaha

    Menurut Darmin, pelemahan rupiah bersumber dari kelemahan dalam perekonomian selama ini ada pada transaksi berjalan. "Ini bukan penyakit baru. Dari 40 tahun yang lalu transaksi berjalan, kita itu defisit. Memang ini agak besar tapi tidak setinggi 2014, tidak setinggi tahun 1994-1995, tidak setinggi tahun 1984," ucapnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Richard Muljadi Ditangkap Ketika Menghirup Kokain, Ini Bahayanya

    Richard Muljadi ditangkap polisi ketika menghirup kokain, narkotika asal Kolombia yang digemari pemakainya karena menyebabkan rasa gembira.