IHSG Dibuka Menguat 0,12 Persen ke Level 5.974,76

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Layar pergerakan Index Saham Gabungan di kawasan Sudirman, Jakarta, Kamis 16 Agustus 2018. Sebanyak 149 saham melemah sehingga menyeret IHSG ke zona merah melemah 28,52 poin atau 0,49 persen ke posisi 5.788. Tempo/Tony Hartawan

    Layar pergerakan Index Saham Gabungan di kawasan Sudirman, Jakarta, Kamis 16 Agustus 2018. Sebanyak 149 saham melemah sehingga menyeret IHSG ke zona merah melemah 28,52 poin atau 0,49 persen ke posisi 5.788. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Indeks harga saham gabungan atau IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa, dibuka menguat sebesar 7,8 poin seiring aksi beli oleh sebagian investor memanfaatkan harga saham yang rendah. IHSG dibuka menguat 7,18 poin atau 0,12 persen menjadi 5.974,76. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak naik 1,78 poin atau 0,19 persen menjadi 943,27.

    Baca: OJK: Volatilitas Rupiah dan IHSG Relatif Tinggi tapi Sementara

    Analis Senior CSA Research Institue Reza Priyambada mengatakan sebagian investor yang memanfaatkan pelemahan harga saham pada hari sebelumnya (3/9) dengan mengakumulasi beli menopang IHSG. "IHSG menguat meski relatif terbatas di tengah sentimen yang cenderung negatif," katanya, Selasa, 4 September 2018.

    Reza menjelaskan, pergerakan nilai tukar rupiah yang masih rentan mengalami depresiasi terhadap dolar AS dapat membuat inventor menahan transaksi yang lebih agresif. Kepala Riset Valbury Sekuritas, Alfiansyah mengatakan nilai tukar rupiah yang rentan terhadap dolar AS dan kebijakan Presiden AS Donald Trum mengenai perdagangan global dapat menahan pergerakan IHSG.  "Sentimen itu masih menjadi perhatian para investor," katanya.

    Bursa regional, di antaranya indeks Nikkei turun 133,06 poin (0,58 persen) ke 22.732,09, indeks Hang Seng menguat 30,71 poin (0,11 persen) ke 27.743,25, dan indeks Strait Times menguat 8,28 poin (0,26 persen) ke posisi 3.215,48.

    Sementara itu, Maximilianus Nico Demus, Direktur Riset dan Investasi Kiwoom Sekuritas Indonesia, memperkirakan kondisi global masih menjadi sentimen pergerakan IHSG hari ini. Sejumlah kondisi global antara lain perang dagang antara AS dengan Cina, krisis Turki dan juga krisis Argentina dan tidak mencapai kesepakatan antara AS dan Kanada.

    Selain itu, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih akan menjadi perhatian pasar hari ini. Hal ini tentunya menjadi kekhawatiran pasar, dan tentunya akan menjadi pertimbangan pelaku pasar akan dampak kondisi tersebut terhadap ketidakpastian perekonomian global dan dalam negeri.

    Pertemuan Presiden Joko Widodo atau Jokowi bersama pejabat bidang ekonomi dan keuangan nasional terkait mengatasi sentimen negatif bagi perekonomian nasional temasuk nilai tukar rupiah diharapkan akan memberikan dampak positif. Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, pemerintah dan otoritas moneter serta OJK akan saling bersinergi, baik dari sisi pasar surat berharga, portfolio, nilai tukar, dan kemudian dinamika sektor riil seperti ekspor dan impor.

    "Secara teknikal, indeks IHSG masih berpotensi terkoreksi dengan support dan resistance di level 5.939-6.011," kata Maximilianus dalam riset harian, Selasa, 4 September 2018. Kemarin, IHSG ditutup terkoreksi 0,85 persen menjadi 5.967.

    Baca: Krisis Argentina Bakal Jadi Sentimen Negatif bagi IHSG 

    Sembilan sektor industri turut mengalami pelemahan di IHSG tersebut. Sektor yang penurunan terbesar pada sektor industri dasar 1,91 persen dan aneka industri 1,79 persen. Sedangkan investor asing melakukan aksi net sell di semua perdagangan saham sebesar Rp 306,03 miliar.

    ANTARA | BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    New Normal, Cara Baru dalam Bekerja demi Menghindari Covid-19

    Pemerintah menerbitkan panduan menerapkan new normal dalam bekerja demi keberlangsungan dunia usaha. Perlu juga menerapkan sejumlah perlilaku sehat.