Sri Mulyani Jaga Harga Pangan Agar Inflasi Terkendali

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat meninjau tempat pengungsian di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Kamis, 23 Agustus 2018. Foto: Humas Kementerian Keuangan

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat meninjau tempat pengungsian di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Kamis, 23 Agustus 2018. Foto: Humas Kementerian Keuangan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan pemerintah akan menjaga tingkat inflasi nasional hingga akhir tahun. "Kami akan terus menjaga, seperti yang selama ini dikomunikasikan," ujar Sri Mulyani di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin, 3 September 2018.

    Baca: Gerindra Kritik Utang Pemerintah, Begini Jawaban Sri Mulyani

    Pada bulan-bulan mendatang, beberapa hal yang diantisipasi bakal mendongkrak angka inflasi adalah naiknya harga pangan. Sri Mulyani juga mengantisipasi adanya imported inflation alias inflasi yang disebabkan oleh lesunya nilai tukar rupiah.

    Selain itu, "Tentu saja ada seasonal sampai akhir tahun itu akan demand driven," kata Sri Mulyani. "Jadi kami akan lihat faktor ini untuk kami jaga menjadi jangkar stabilitas, bisa diperkuat."

    Ihwal angka Indeks Harga Konsumen sampai Agustus 2018, menurut Sri Mulyani, masih cukup kondusif untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional. "Saya rasa stabilitas dari angka harga-harga ini menjadi salah satu komponen yang penting," ujar dia.

    Kata dia, di tengah gejolak pasar global, isu stabilitas menjadi hal yang penting diperhatikan guna membangkitkan kepercayaan para pelaku pasar. Oleh karena itu, pemerintah akan terus menjaga kestabilan harga dari sumber-sumber inflasi di bulan-bulan mendatang.

    Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat pada Agustus 2018 terjadi deflasi sebesar 0,05 persen. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan angka deflasi ini menyebabkan tahun kalender atau year to date tercatat 2,13 persen, sementara inflasi dari tahun ke tahun atau year on year 3,20 persen.

    "Tentu hasil ini menggembirakan karena berada di bawah target sebesar 3,5 persen," kata Suhariyanto saat mengelar rilis data di Kantor BPS, Sawah Besar, Jakarta Pusat.

    Tingkat inflasi ini cenderung lebih baik jika dibandingkan dengan inflasi Juli 2018 yang mencapai 0,28 persen. Tetapi lebih tinggi dibandingkan deflasi yang terjadi pada Juli 2017 yang mencapai 0,07 persen. Sementara secara year on year inflasi ini lebih baik dibandingkan pada Agustus 2017 yang mencapai 3,82 persen.

    "Deflasi terjadi karena adanya penurunan harga beberapa indeks kelompok pengeluaran yaitu bahan makanan sebesar 1,10 persen, kelompok sandang sebesar 0,07 persen dan transport, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,15 persen," kata Suhariyanto.

    Suhariyanto juga mengatakan pada Agustus 2018 sebanyak 52 kota mengalami delfasi sedangkan 30 kota mengalami inflasi. Adapun inflasi terbesar terjadi di Tarakan, Kalimantan Utara dengan inflasi mencapai 0,62 persen sedangkan deflasi tertinggi terjadi Bau-Bau, Sulawesi Tenggara mencapai 2,49 persen.

    CAESAR AKBAR | DIAS PRASONGKO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.