Darmin Nasution: Mandatori B20 Hemat Devisa US$ 2 Miliar

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong saat menjelaskan alasan keterlambatan peluncuran online single submission  atau OSS dalam Dialog Publik Bersama Pelaku Usaha tentang OSS di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, 25 Mei 2018. TEMPO/Dewi Nurita

    Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong saat menjelaskan alasan keterlambatan peluncuran online single submission atau OSS dalam Dialog Publik Bersama Pelaku Usaha tentang OSS di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, 25 Mei 2018. TEMPO/Dewi Nurita

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution yakin perluasan kebijakan pencampuran solar dengan minyak sawit 20 persen atau mandatori B20 bisa menghemat devisa negara yang berdampak kepada stabilitas perekonomian dalam negeri.

    Baca juga: Menko Darmin Ingatkan Pelemahan Rupiah Bisa Mendongkrak Inflasi

    "Kita bisa menghemat US$ 2-2,3 miliar sampai akhir tahun ini," ujar Darmin saat peluncuran program tersebut di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Jumat, 31 Agustus 2018.

    Pemerintah resmi menerapkan perluasan mandatori B20 mulai Sabtu, 1 September 2018.

    Darmin menilai penerapan mandatori B20 adalah kebijakan yang dampaknya akan cepat terasa ketimbang alternatif lain, seperti menggenjot investasi, maupun memberikan insentif. Sebab, dengan B20, Indonesia akan mengurangi kebutuhan solar di dalam negeri. Sementara solar selama ini diperoleh dengan mengimpor.

    Di sisi lain, produksi dan stok crude palm oil alias CPO pun sedang cukup tinggi sehingga harganya pun agak turun. Dengan peningkatan konsumsi minyak sawit, maka diharapkan tahun depan harganya membaik. "Itu akan menaikkan devisa."

    Darmin menekankan penerapan B20 adalah satu bagian dari rencana besar mendorong ekspor dan memperlambat impor dalam rangka menyehatkan neraca pembayaran Indonesia. Bahkan, ia berharap dalam waktu yang tidak terlalu lama kebijakan itu bisa menghilangkan defisit neraca perdagangan ekspor-impor barang.

    "Selanjutnya adalah mengurangi defisit transaksi berjalan," kata Darmin. Defisit transaksi berjalan, menurut dia, adalah perkara yang sulit diselesaikan sejak 1970. Sebabnya, masih banyak kegiatan ekonomi yang belum dimasuki investor, khususnya di sektor hulu.

    "Misalnya di bidang penghasil besi, baja, petrokimia, dan farmasi, karena itu kebijakannya luas," tutur Darmin.

    Selain perluasan penerapan B20, pemerintah tengah meningkatkan kunjungan wisatawan ke objek-objek pariwisata dalam negeri, hingga menggenjot investasi dengan adanya layanan online single submission. "Dia fungsinya untuk meningkatkan investasi dan ekspor. Itu dirancang dari awal tujuannya demikian," kata Darmin Nasution.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menimbun Kalori Kue Lebaran, seperti Nastar dan Kastengel

    Dua kue favorit masyarakat Indonesia saat lebaran adalah nastar dan kastangel. Waspada, dua kue itu punya tinggi kalori. Bagaimana kue-kue lain?