Ekonomi Indonesia Dinilai Lebih Baik dari Turki dan Argentina

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • INDEF menggelar evaluasi terhadap kebijakan pangan di masa pemerintahan Jokowi-JK, 10 Juli 2017. TEMPO/Putri Thaliah

    INDEF menggelar evaluasi terhadap kebijakan pangan di masa pemerintahan Jokowi-JK, 10 Juli 2017. TEMPO/Putri Thaliah

    TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan kondisi kesehatan ekonomi baik, moneter dan fiskal Indonesia lebih baik dari pada Argentina dan Turki. Hal itu terlihat salah satunya dari current account deficit (CAD).

    Baca: Indonesia Diminta Terlibat Panel Pembangunan Ekonomi Kelautan

    "Soal krisis Argentina ini memiliki kesamaan dengan Turki. Beberapa indikator kesehatan moneter dan fiskal Indonesia, Argentina dan Turki memiliki beberapa kesamaan, meskipun kondisi Indonesia sedikit lebih baik," kata Bhima saat dihubungi, Jumat, 31 Agustus 2018.

    Bhima mengatakan Indonesia, Argentina dan Turki sama-sama mengalami defisit transaksi berjalan. Menurut Bhima CAD Indonesia sebesar 3 persen, sedangkan Turki 5,9 persen dan Argentina 4,7 persen.

    Kemudian, kata Bhima dari sisi defisit anggaran Indonesia ditargetkan 2,2 persen pada 2018, sedangkan di Turki 2,8 persen dan Argentina 5,3 persen.

    "Soal rasio utang Turki dan Argentina sudah di atas 50 persen. Indonesia di kisaran 30 persen," kata Bhima.

    Tapi, menurut Bhima yang perlu dicermati adalah rasio kepemilikan asing di surat utang Indonesia yang mencapai 40 persen.

    Bhima menilai di tengah naiknya bunga Fed rate dan resiko global capital outflow bisa mengganggu kinerja ekonomi indonesia.

    "Investor asing melihat kondisi ini akan lakukan flight to quality dengan membeli aset yang aman baik dolar, emas, maupun yen," ujar Bhima.

    Menurut Bhima faktor tersebut akan mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu ini. Karena itu, untuk hari ini Bhima memperkirakan rupiah akan melemah. Bhima memprediksi rupiah akan bergerakan di kisaran Rp 14.650 - Rp 14.730 per dolar AS.

    Rupiah terhadap dolar AS juga diprediksi oleh Analis Pasar Uang Bank Mandiri Reny Eka Putri. Reny memperkirakan rupiah akan bergerak di kisarsn Rp 14,680 - Rp 14,765.

    "Faktor yang mempengaruhi pergerakan rupiah hati ini adalah perang dagang, sell off di emerging market, domestic lack of sentiments," kata Reny saat dihubungi.

    Simak berita tentang ekonomi hanya di Tempo.co


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Menyebabkan Wabah Mirip SARS di Kota Wuhan, Cina

    Kantor WHO cabang Cina menerima laporan tentang wabah mirip SARS yang menjangkiti Kota Wuhan di Cina. Wabah itu disebabkan virus korona jenis baru.