Rabu, 26 September 2018

Ekonom Bank Mandiri ini Prediksi BI Bakal Naikkan Suku Bunga Lagi

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Ekonom Bank Mandiri, Anton Gunawan seusai Seminar Nasional Apakah Perekonomian Indonesia Melambat? di Hotel Borobudur, Jakarta, 14 Agustus 2017. Istimewa

    Kepala Ekonom Bank Mandiri, Anton Gunawan seusai Seminar Nasional Apakah Perekonomian Indonesia Melambat? di Hotel Borobudur, Jakarta, 14 Agustus 2017. Istimewa

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk. (Persero) Anton Gunawan memprediksi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia satu kali lagi pada tahun ini. "Suku bunga BI akan berada di level 5,75 persen tahun ini dan tahun depan dan tahun depan jadi 6,5 persen," ujarnya di Plaza Bank Mandiri, Jakarta, Kamis, 30 Agustus 2018.

    Baca: ADB Institute: Kenaikan Suku Bunga BI Tepat, Tapi Tak Cukup

    Menurut Anton, inflasi menjadi salah satu faktor pendorong BI untuk menaikkan suku bunga. Saat ini, inflasi dalam negeri memang masih di kisaran 3,18 persen. Namun, ia memprediksi angka itu bisa mencapai 3,6 persen sampai akhir tahun 2018. "Karena ada perkiraan kenaikan harga pangan," ujar Anton.

    Angka inflasi diramalkan masih bakal melambung di tahun depan menuju 4,5 persen lantaran setelah pemilihan umum dan lebaran pemerintah mau tidak mau harus menyesuaikan harga bahan bakar minyak. Sebab, harga minyak memang terus bergerak sejak pertengahan tahun lalu.

    "Lalu, ada pengaruh dari wholesale indeks, itu proksi inflasi yang dirasakan produsen, di mana harga bahan baku lebih tinggi inflasinya dari indeks inflasi konsumen," ujar Anton.

    Sehingga, kenaikan harga bahan baku, entah karena depresiasi rupiah dan bahan bakar minyak yang tidak disubsidi itu belum bisa ditransfer ke konsumen sementara ini. "Mereka mengurangi marjin keuntungannya atau membanting cost, tapi pada titik tertentu harus ada penyesuaian harga."

    Dengan ekspektasi inflasi di kisaran 4,5 persen pada tahun depan, kata Anton, tentu Bank Indonesia juga perlu menyesuaikan suku bunganya. Hal yang kerap ditinjau dalam penentuan suku bunga adalah besaran riil interest rate. 

    "Jangan terlalu besar, terlalu kecil, apalagi negatif," ucap Anton. Dalam situasi normal, selisih suku bunga dengan ekspektasi inflasi mesti di kisaran 75-100 basis poin, atau seminimalnya 50 basis poin.

    "Kalau dia diangkat ke 5 persen bahkan hingga 6,5 persen seperti forecast kami, itu artinya masih cukup ruang gerak dengan proyeksi inflasi 4,5 persen," kata Anton lagi.

    Senada dengan Anton, ekonom dari Universitas Indonesia Lana Soelistianingsih sebelumnya memproyeksikan Bank Indonesia bisa menaikkan lagi suku bunganya sebanyak dua kali. Sebab, tahun ini bank sentral Amerika Serikat, The Fed, diprediksi akan menaikkan suku bunganya dua kali lagi pada September dan Desember 2018.

    Baca: Seperti Apa Nasib Rupiah Jika Suku Bunga AS Naik 2 Kali Lagi?

    "Sekarang sudah Rp 14.655, BI harus all out. Kalau tidak naikkan suku bunga, dia harus lepas cadangan devisa lebih banyak atau mengurang rupiah dengan cara menjual obligasinya," kata Lana.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Karen Agustiawan Ditahan Karena Akuisisi Pertamina di Blok BMG

    Kejaksaan Agung menahan mantan Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan terkait kasus dugaan korupsi investigasi Pertamina berupa akuisisi aset BMG.