Kembali Jeblok, Rupiah Bertengger di Level Rp 14.655 per Dolar AS

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga menghitung mata uang rupiah hasil jual mata uang dolar, di money changer. Mata uang rupiah kini semakin melemah akibat krisis global.  Jakarta, 25 Agustus 2015. TEMPO/Subekti

    Warga menghitung mata uang rupiah hasil jual mata uang dolar, di money changer. Mata uang rupiah kini semakin melemah akibat krisis global. Jakarta, 25 Agustus 2015. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali jeblok. Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate, kurs menginjak level Rp 14.655 per dolar Amerika Serikat pada Kamis, 30 Agustus 2018. Angka tersebut melemah ketimbang Rabu, 29 Agustus 2018, ketika kurs rupiah berada di level Rp 14.643 per dolar AS.

    Baca: Seperti Apa Nasib Rupiah Jika Suku Bunga AS Naik 2 Kali Lagi?

    Rupiah sempat menguat pada awal pekan ini. Setelah ditutup di level Rp 14.655  pada Jumat, 24 Agustus 2018, rupiah sempat perkasa di angka Rp 14.610 pada 27 Agustus 2018.

    Namun, sehari setelahnya rupiah kembali loyo di Selasa, 28 Agustus 2018. Sejak saat itu, rupiah terus loyo ke level sekarang.

    Baca: Rupiah Jeblok, Ekonom Ceritakan Bedanya dengan Tahun 2015

    Pada awal pekan, nilai tukar rupiah diprediksi bergerak di kisaran Rp 14.550 - Rp 14.680 per dolar Amerika Serikat pada pekan ini. Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara memproyeksi para investor masih akan melakukan panic sell-off pekan ini.

    "Ini dipicu oleh rilis rapat The Fed pada 22 Agustus lalu yang secara implisit menandakan Fed rate akan naik dua kali pada tahun ini," ujar Bhima kepada Tempo, Senin, 27 Agustus 2018. Bank sentral AS diprediksi menaikkan suku bunganya pada September dan Desember 2018, dengan kenaikan masing-masing 25 basis poin.

    Pada pekan ini, investor diperkirakan akan berburu instrumen keuangan berdenominasi dolar. Ini terlihat dari US dolar index masih bertengger di 95,4. Kemudian yield spread antara Treasury dan Surat Berharga Negara tenor 10 tahun semakin melebar. "Yield Treasury tercatat 2,82 persen sementara SBN menembus 8 persen," ujar Bhima.

    Semakin lebar yield spread, kata Bhima, menunjukkan investor asing cenderung menjual surat utang Indonesia. Krisis Turki dan ketidakpastian perang dagang antara AS dan Cina pun menambah parah keadaan ekonomi global.

    Simak berita menarik lainnya terkait rupiah hanya di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemprov DKI Putuskan Kalender Pendidikan Mulai 13 Juli 2020

    Pemprov DKI Jakarta menetapkan kalender pendidikan 2020/2021 dimulai 13 Juli 2020 dan selesai di Juni 2021. Pada Juli 2021, masuk kalender berikutnya.