Rupiah Lanjutkan Pelemahan ke Level 14.630 per Dolar AS Pagi Ini

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas money changer menghitung mata uang dolar. Rupiah semakin tertekan terhadap nilai tukar dolar Amerika Serikat, di level Rp14.060 per Dolar AS. Jakarta, 25 Agustus 2015. TEMPO/Subekti

    Petugas money changer menghitung mata uang dolar. Rupiah semakin tertekan terhadap nilai tukar dolar Amerika Serikat, di level Rp14.060 per Dolar AS. Jakarta, 25 Agustus 2015. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Nilai tukar rupiah melanjutkan pelemahannya pada awal perdagangan hari ini, Rabu, 29 Agustus 2018. Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah dibuka di zona merah dengan pelemahan 4 poin atau 0,03 persen ke level Rp 14.630 per dolar AS pada perdagangan pagi ini.

    Baca: Rupiah Jeblok, Ekonom Ceritakan Bedanya dengan Tahun 2015

    Mata uang Garuda melanjutkan pelemahannya setelah ditutup berbalik ke zona merah dengan depresiasi 6 poin atau 0,04 persen di level Rp 14.626 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Pelemahan rupiah ini sejalan dengan indeks dolar AS yang bergerak menguat pagi ini sebesar 0,04 persen atau 0,036 poin ke level 95,756 pada pukul 7.54 WIB.

    Sebelumnya indeks dolar dibuka rebound dengan penguatan hanya 0,004 poin di level 94,724. Hal ini terjadi setelah pada perdagangan kemarin berakhir melemah 0,06 persen atau 0,059 poin di posisi 94,720.

    Baca : Menko Darmin: Meski Sering Ditekan, Rupiah Bisa Kembali Bangkit

    Ekonom Universitas Gadjah Mada Tony Prasetiantono sebelumnya memperkirakan kurs rupiah masih akan terancam melemah. Terutama karena bank sentral Amerika Serikat, The Fed, mengisyaratkan menaikkan kembali suku bunganya dua kali pada September dan Desember 2018.

    "Kecuali ada sentimen positif yang bisa menahannya, misalnya kinerja ekspor yang positif (surplus), cadangan devisa naik, capital inflow membaik, dan lainnya," ujar Tony kepada Tempo, Ahad. 26 Agustus 2018.

    Tony berujar pergerakan rupiah banyak dipengaruhi kondisi eksternal, khususnya AS. Meski, menurut Tony, AS kini tengah mengalami dilema. Dari sisi The Fed, Gubernur Jerome Powell berkeras ingin menaikkan suku bunga-nya. Alasannya adalah untuk melindungi penabung. "Suku bunga acuan The Fed kini 2 persen, padahal inflasi 2,9 persen. Berarti penabung bakal menderita, suku bunga riil negatif," ujar Tony.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemprov DKI Putuskan Kalender Pendidikan Mulai 13 Juli 2020

    Pemprov DKI Jakarta menetapkan kalender pendidikan 2020/2021 dimulai 13 Juli 2020 dan selesai di Juni 2021. Pada Juli 2021, masuk kalender berikutnya.