Selasa, 13 November 2018

Kerugian dan Kerusakan Akibat Gempa Lombok Capai Rp 8,8 Triliun

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga melintasi runtuhan tembok papan nama hotel Santika yang roboh akibat gempa bumi berkekuatan 7 SR di Mataram, NTB, Ahad, 5 Agustus 2018. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut beberapa bangunan di Lombok dan Bali rusak akibat gempa. ANTARA/Ahmad Subaidi

    Warga melintasi runtuhan tembok papan nama hotel Santika yang roboh akibat gempa bumi berkekuatan 7 SR di Mataram, NTB, Ahad, 5 Agustus 2018. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut beberapa bangunan di Lombok dan Bali rusak akibat gempa. ANTARA/Ahmad Subaidi

    TEMPO.CO, Jakarta-Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB tengah melakukan kajian kebutuhan dana pasca bencana gempa bumi di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Dalam kesempatan yang sama, BNPB juga mengkaji besar kerugian akibat bencana itu.

    BACA: BMKG Luruskan Kabar Prediksi Gempa M 9.5 di Indonesia

    "Untuk sementara kami memperoleh nilai Rp 8,8 triliun-an untuk kerusakan dan kerugian," ujar Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi Badan Nasional Penanggulangan Bencana Harmensyah di Kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika, Senin, 27 Agustus 2018.

    Selanjutnya, Harmensyah mengatakan lembaganya masih akan menentukan berapa nilai kebutuhan bila hendak membangun kembali rumah dan infrastruktur yang rusak, pengembangan ekonomi, dan perbaikan fasilitas sosial.

    Terkait percepatan rekonstruksi rumah-rumah masyarakat, Harmensyah mengatakan BNPB sudah mencairkan Dana Siap Pakai atau DSP yang telah dimasukkan ke dalam 12 ribuan buku rekening di Bank Rakyat Indonesia.

    BACA: Pembangunan Rumah Korban Gempa Lombok Ditarget Tuntas 6 Bulan

    Namun demikian, kata Harmensyah, dana tersebut belum bisa langsung dipakai oleh masyarakat karena akan diberikan pendampingan agar tidak salah dalam penggunaannya. "Termasuk rumah-rumah masyarakat yang rusak juga kita ambilkan dari Dana Siap Pakai," ujar Harmensyah.

    Ihwal mekanisme pencairannya pun, menurut Harmen, harus jelas. Sehingga dana yang diberikan ke masyarakat itu benar-benar dibelanjakan untuk menjadi rumah. "Bukan jadi motor atau yang lain-lainnya. Jadi ada tahapan-tahapan yang perlu dilakukan," ucap Harmensyah.

    Menurut Harmensyah, proses rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas publik dan rumah masyarakat pascagempa yang mengguncang Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, akan tuntas paling lambat 2020.

    Secara garis waktu, BNPB akan merampungkan pendataan pada Agustus 2018. Pada September 2018, mereka akan melakukan rapat koordinasi rencana aksi rekonstruksi tingkat pusat.

    Di Desember 2018, Harmensyah menargetkan pemulihan sarana dan prasarana vital seperti sekolah, rumah sakit, dan lain sebagainya telah rampung. "Kalau belum, Maret 2019 itu selesai dilaksanakan. Sisa-sisanya di 2020 kita harapkan pemulihan pascabencana gempa selesai," kata Harmensyah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lion Air JT - 610, Kecelakaan Pesawat Nomor 100 di Indonesia

    Jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK - LQP rute penerbangan JT - 610 merupakan kecelakaan pesawat ke-100 di Indonesia. Bagaimana dengan di dunia?