Angkasa Pura II Siapkan Rp 500 M untuk Bandara Fatmawati Soekarno

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Utama PT Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin saat Ramp Safety Campaign di Bandara Soekarno Hatta, Senin, 30 Juli 2018. TEMPO/Joniansyah

    Direktur Utama PT Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin saat Ramp Safety Campaign di Bandara Soekarno Hatta, Senin, 30 Juli 2018. TEMPO/Joniansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Angkasa Pura II siapkan dana masing-masing Rp 300-500 miliar untuk pengembangan Bandara Radin Inten II di Lampung dan Bandara Fatmawati Soekarno di Bengkulu. Kedua bandara tersebut resmi dialihkan pengelolaannya ke PT Angkasa Pura II pada Senin, 27 Agustus 2018.

    Baca juga: Menhub Ajak Angkasa Pura II Kelola Bandara Fatmawati Soekarno

    "Kalau biasanya alokasi dana untuk pengelolaan awal bandara pasca pengalihan itu Rp 300-500 miliar per bandara itu akan dipakai untuk menambah supply atau fasilitas bandara," kata Direktur Utama PT Angkasa Pura II, Muhammad Awaluddin, saat ditemui di Jakarta Pusat, Senin, 27 Agustus 2018.

    Kedua bandara tersebut sudah memiliki pergerakan penumpang lebih dari satu juta per tahun. Angkasa Pura II akan memfokuskan pengembangan sarana dan prasarana bandara seperti pembangunan dan perawatan landasan pacu dan pembangunan gedung terminal.

    Awaluddin mencontohkan pengelolaan Bandara Banyuwangi yang resmi dikelola PT Angkasa Pura II sejak 2017. Bandara tersebut kini sudah memiliki lahan parkir pesawat  yang lebih luas.

    Perbaikan-perbaikan di Bandara Banyuwangi dilakukan agar bandara memiliki fasilitas penerbangan yang memadai. Dengan demikian, rute penerbangan melalui Bandara Banyuwangi lebih diminati.

    Bandara Radin Inten II di Lampung dan Bandara Fatmawati Soekarno di Bengkulu ditargetkan Angkasa Pura II menjadi bandara yang bisa menghubungkan destinasi wisata di daerah tersebut.

    SUHAIMAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.