Survei: Transportasi Umum Jadi Pertimbangan Pembeli Properti

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pengunjung memperhatikan sistem kepemilikan rumah dan apartemen dalam acara Indonesia Property Expo (IPEX) 2017, di Jakarta, 18 Februari 2017. Bank BTN menggenjot penyaluran KPR 2017 hingga Rp2,5 triliun, dalam upaya meningkatkan penyaluran KPR Bank BTN sebesar 40 persen hingga tahun 2019. TEMPO/Fajar Januarta

    Sejumlah pengunjung memperhatikan sistem kepemilikan rumah dan apartemen dalam acara Indonesia Property Expo (IPEX) 2017, di Jakarta, 18 Februari 2017. Bank BTN menggenjot penyaluran KPR 2017 hingga Rp2,5 triliun, dalam upaya meningkatkan penyaluran KPR Bank BTN sebesar 40 persen hingga tahun 2019. TEMPO/Fajar Januarta

    TEMPO.CO, Jakarta - Pencari properti, khususnya hunian, saat ini sudah semakin realistis. Mereka sadar bahwa harga hunian di dekat pusat kota sudah semakin sulit dijangkau. Head of Marketing Rumah.com, Ike Hamdan mengatakan sementara itu, rumah tapak masih menjadi jenis properti hunian paling favorit. Rumah-rumah dengan harga terjangkau kini hanya terdapat di pinggiran kota, bahkan di kota-kota penyangga.

    Baca: Uang Muka Diperlonggar, Bank dan Pengembang Gelar Promo KPR

    "Nah, agar bisa memiliki rumah sesuai kemampuan namun aktivitas sehari-hari tak terganggu, para pencari hunian ini akhirnya menjadikan jarak dari rumah ke sarana transportasi umum sebagai pertimbangan utama," katanya, Minggu, 26 Agustus 2018.

    Kondisi itu tercermin dari 1.000 responden yang berpartisipasi dalam survei hasil kerja sama Rumah.com dan Intuit itu, sebanyak 61 persen menegaskan bahwa jarak rumah ke sarana transportasi umum sangat penting dalam pertimbangan mencari hunian, sementara 26 persen menegaskan penting.

    Ike menjelaskan bahwa First Time Buyer Paling Butuh Rumah Dekat Halte atau Stasiun.Sementara itu, batas toleransi jarak dari hunian ke sarana transportasi umum adalah di bawah 1 kilometer. Pada jarak ini, sebanyak 51 persen menganggapnya dekat/sedang.

    Apabila dilihat dari klasifikasi respondennya, mereka yang berniat membeli rumah pertama lebih menegaskan pentingnya jarak rumah dengan sarana transportasi umum, yakni sebanyak 64 persen menyatakan sangat penting. Sementara itu, responden upgrader, atau mereka yang ingin meningkatkan taraf kualitas rumahnya baik dari segi lokasi, luas rumah, harga, dan lain-lain, sebanyak 57 persen menyatakan sangat penting. Sementara itu, responden yang berniat membeli rumah untuk investasi hanya 54 persen yang menyatakan sangat penting.

    Masih berbicara soal kedekatan, saat ditanya seputar lokasi, sebanyak 69 persen responden menyertakan kedekatan dengan kantor sebagai salah satu pertimbangannya. Pertimbangan lain adalah jarak dengan sekolah anak-anak, yakni sebesar 47 persen.

    Menurut Ike, mencari properti yang tepat sesuai kebutuhan dan kemampuan bukan perkara mudah. Perlu pertimbangan yang cermat agar tidak salah langkah.

    Bagi para investor, ujar Ike, pertimbangannya biasanya adalah pasar penyewa di sekitar lokasi. Misalnya, mereka mengincar properti di dekat perkantoran untuk disewakan kepada pekerja di sekitarnya, atau di dekat kampus untuk disewakan kepada mahasiswa yang kuliah di sana. "Jadi, sarana transportasi umum tidak terlalu menjadi pertimbangan," katanya.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.