Seperti Apa Nasib Rupiah Jika Suku Bunga AS Naik 2 Kali Lagi?

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani bersama jajarannya melakukan konferensi pers terkait APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) semester I-2018 di gedung Direktorat Jendral Pajak, Jakarta, Selasa, 14 Agustus 2018. Realisasi sampai dengan semester I-2018 adalah Rp 13.855 per dolar AS. Sementara suku bunga rata-rata satu semester sampai 31 Juli 2018 masih di 4,57%. TEMPO/Tony Hartawan

    Menteri Keuangan Sri Mulyani bersama jajarannya melakukan konferensi pers terkait APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) semester I-2018 di gedung Direktorat Jendral Pajak, Jakarta, Selasa, 14 Agustus 2018. Realisasi sampai dengan semester I-2018 adalah Rp 13.855 per dolar AS. Sementara suku bunga rata-rata satu semester sampai 31 Juli 2018 masih di 4,57%. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Rupiah terus dihantui ancaman depresiasi. Apalagi bank sentral Amerika Serikat, The Fed, mengisyaratkan menaikkan kembali suku bunganya dua kali pada September dan Desember 2018. Berdasarkan Jakarta Interbank Dollar Rate Bank Indonesia, kurs rupiah menyentuh level Rp 14.655 per dolar AS pada Jumat, 24 Agustus 2018.

    Baca : Menko Darmin: Meski Sering Ditekan, Rupiah Bisa Kembali Bangkit

    "Kecuali ada sentimen positif yang bisa menahannya, misalnya kinerja ekspor yang positif (surplus), cadangan devisa naik, capital inflow membaik, dan lainnya," ujar Ekonom Universitas Gadjah Mada Tony Prasetiantono kepada Tempo, Ahad. 26 Agustus 2018.

    Tony berujar Rupiah banyak dipengaruhi kondisi eksternal, khususnya AS. Meski, menurut Tony, AS kini tengah mengalami dilema. Dari sisi The Fed, Gubernur Jerome Powell berkeras ingin menaikkan suku bunga-nya. Alasannya adalah untuk melindungi penabung.

    "Suku bunga acuan The Fed kini 2 persen, padahal inflasi 2,9 persen. Berarti penabung bakal menderita, suku bunga riil negatif," ujar Tony.

    Sementara dari sisi pemerintah AS, kenaikan suku bunga The Fed akan menyebabkan US$ mengalami apresiasi. Kondisi itu, menurut Tony, tidak baik bagi perdagangan AS yang menderita defisit besar, terutama terhadap Cina, hingga menyentuh US$ 375 miliar.

    "In the meantime, Cina justru sekarang sudah enjoy dengan melemahnya yuan, ini kian merepotkan AS. Makanya Trump tidak suka Powell menaikkan suku bunga," ujar Tony.

    Tony memproyeksikan suku bunga acuan The Fed menjadi 3,25 persen pada tahun depan. Adapun saat ini, suku bunga The Fed baru di level 2 persen. Berarti, ujar Tony, masih perlu 5 kali kenaikan suku bunga, yaitu dua kali di tahun ini dan tiga kali di tahun depan, dengan kenaikan masing-masing 25 basis poin.

    Baca: Rupiah Diprediksi Masih Terpengaruh Krisis Turki

    Senada dengan Tony, Chief Economist Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih berujar kenaikan suku bunga acuan The Fed sebanyak dua kali pada tahun ini probabilitasnya sangat tinggi. berdasarkan beberapa poling, untuk kenaikan pada akhir September, probabilitasnya sudah mencapai setidaknya 92,6 persen. "Untuk kenaikan di Desember pun probabilitasnya sudah di atas 50 persen," kata Lana.

    Simak berita tentang rupiah hanya di Tempo.co


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.