Gempa Lombok, Bisnis Perhotelan Hadapi Masa-masa Sulit

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah warga korban gempa berrsalaman usai melaksanakan Salat Idul Adha 1439 H di Posko Pengungsian Desa Kekait, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, NTB, Rabu 22 Agustus 2018. Sebanyak 1400 jiwa pengungsi korban gempa bumi di tenda pengungsian tersebut merayakan hari raya  Idul Adha di tenda pengungsian dan menyembelih hewan kurban sebanyak 30 ekor sapi sumbangan dari para donatur. ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi

    Sejumlah warga korban gempa berrsalaman usai melaksanakan Salat Idul Adha 1439 H di Posko Pengungsian Desa Kekait, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, NTB, Rabu 22 Agustus 2018. Sebanyak 1400 jiwa pengungsi korban gempa bumi di tenda pengungsian tersebut merayakan hari raya Idul Adha di tenda pengungsian dan menyembelih hewan kurban sebanyak 30 ekor sapi sumbangan dari para donatur. ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi

    TEMPO.CO, Jakarta - Dampak gempa Lombok, Ketua Umum Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia atau PHRI Haryadi Sukamdani mengatakan kondisi bisnis perhotelan di wilayah Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, tengah memasuki masa-masa sulit. Dalam beberapa hari terakhir, gempa susulan terus terjadi dan telah menyebabkan setidaknya 515 orang meninggal dunia.

    BACA: Kerugian Gempa Lombok Ditaksir Mencapai Rp 7,7 Triliun

    "Sekarang ini boleh dibilang memang okupansinya sangat rendah sekali," kata Hariyadi saat ditemui dalam acara Seminar Nasional Asosiasi Pengusaha Indonesia atau Apindo di Veranda Hotel, Selasa, 21 Agustus 2018. "Karena memang masih belum stabil kondisi tanahnya, jadi orang agak takut."

    Walau demikian, Hariyadi mengaku tak tahu dan belum bisa menyampaikan angka pasti berapa penurunan tingkat hunian hotel atau okupansi di daerah tersebut. "Enggak enak juga ngomongnya berapa." Namun yang pasti, okupansi hotel seret karena sumber penghuni perhotelan di sana, yaitu turis, terus berkurang pasca-kejadian serentetan gempa.

    Di Lombok, tak hanya korban tewas, jumlah korban luka-luka pun tak kalah banyaknya, yaitu mencapai 7000 orang lebih. Lalu 70 ribu rumah dan 800 fasilitas umum ikut rusak. Sementara itu, 431 ribu orang terpaksa keluar dari rumah mereka dan menginap di lokasi pengungsian.

    BACA: Pesan Jokowi di Idul Adha: Mari Bantu Korban Gempa Lombok

    Sebelum gempa ini, bisnis perhotelan di sekitar wilayah ini juga baru saja terdampak gempa Gunung Agung di Pulau Bali pada awal Juli 2018. Namun beruntung saat itu bencana alam ini tidak berlangsung lama sehingga kerugian hanya datang sesaat. "Karena terus relatif stabil, ya enggak apa-apa setelahnya," ujar Hariyadi.

    Hariyadi mengatakan pemulihan bisnis perhotelan di area terdampak gempa Lombok belum diketahui akan berlangsung berapa lama. Mengingat saat ini gempa susulan terus terjadi tanpa bisa diprediksi. Tapi imbasnya beralih ke Pulau Bali yang bersebelahan provinsi karena relatif aman dan jauh dari titik gempa. "Karena masalah ketidaknyamanan itu makanya turis tidak pergi ke Lombok," tuturnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.