Api Kaldron Asian Games Tak Boleh Mati Sedetik Pun, PGN Pasok Gas

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lagenda bulu tangkis Indonesia Susi Susanti (tengah)  menyalakan kaldron dengan obor Asian Games 2018 saat prosesi Torch Relay Asian Games 2018 di lautan pasir Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur, Sabtu, 21 Juli 2018. Susi Susanti yang membawa obor Asian Games dan menyalakan api abadi di pelataran Pura Lautan Pasir Bromo, Probolinggo. ANTARA

    Lagenda bulu tangkis Indonesia Susi Susanti (tengah) menyalakan kaldron dengan obor Asian Games 2018 saat prosesi Torch Relay Asian Games 2018 di lautan pasir Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur, Sabtu, 21 Juli 2018. Susi Susanti yang membawa obor Asian Games dan menyalakan api abadi di pelataran Pura Lautan Pasir Bromo, Probolinggo. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta -PT Perusahaan Gas Negara Tbk atau PGN memasok bahan bakar gas bumi ke kaldron Asian Games 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Sekretaris Perusahaan PGN Rachmat Hutama mengatakan, Panitia Penyelenggara Asian Games atau Inasgoc telah meminta perusahaan mengalirkan gas untuk menyalakan api di kaldron utama dalam stadion dan kaldron lainnya di luar stadion, mulai 18 Agustus hingga 2 September 2018.

    BACA: Susi Pudjiastuti Kecoh Warga Saat Menonton Pembukaan Asian Games

    "Api untuk kaldron ini tidak boleh mati sedetik pun. Karena kobaran api berwarna merah menyala-nyala ini menggambarkan semangat para atlet yang akan bertanding di Asian Games. Penting bagi kami untuk bisa mempersiapkan api kaldron sesuai dengan kriteria yang ditentukan," katanya dalam siaran pers, Minggu, 19 Agustus 2018.

    Asian Games 2018 dibuka secara resmi oleh Presiden Joko Widodo di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu malam, 18 Agustus 2018. Rangkaian seremoni pembukaan termasuk penyalaan api di kaldron Asian Games tersebut mendapat apresiasi.

    BACA: Asian Games, Rudiantara Jamin Spektrum Frekuensi Radio Aman

    Menurut Rachmat, pasokan gas bumi PGN dalam bentuk terkompresi (compressed natural gas/CNG) itu disebut Gaslink, yang disediakan anak usaha PGN, PT Gagas Energi Indonesia. Tabung CNG berisi gas 200 bar ditempatkan dalam truk gas transport module (GTM) di dekat lokasi kaldron.

    Terdapat empat truk GTM ukuran 20 dan 10 kaki yang digunakan. Keempat truk pengangkut CNG itu dilengkapi dengan pressupressure release device, yaitu alat yang berfungsi melepaskan gas secara langsung ketika terjadi benturan atau panas berlebih.

    Untuk tambahan pengamanan, Gagas juga mengoperasikan dua unit pressure reduction system (PRS) dengan kapasitas 1.000 m3/jam dan 300 m3/jam yang sudah dilengkapi dengan pressure safety valve.

    Alat itu berfungsi melepaskan tekanan berlebih pada PRS dan shutdown valve yang dapat ditutup secara manual ketika terjadi kebocoran. "Gagas akan memastikan api di kaldron berwarna merah menyala dan terus hidup dengan menyiagakan tim operator selama 24 jam. Kami telah melakukan serangkaian tes untuk menjamin hal tersebut, pada pagi, siang, sore, dan malam hari dengan simulasi berbagai kondisi cuaca," kata Rachmat.

    Berdasarkan tes yang telah dilakukan, total kebutuhan gas untuk menghidupkan api kaldron mencapai 40.000 m3 dengan rincian 14.000 m3 untuk kaldron di dalam stadion dan 26.000 m3 untuk kaldron di luar stadion.

    Penyaluran gas untuk kaldron utama kurang lebih selama dua jam saat acara pembukaan berlangsung. Sedangkan kaldron luar terus dipasok gas selama pelaksanaan Asian Games.

    Rachmat menambahkan selain memasok gas, PGN juga memberikan dukungan tambahan berupa 500 supir bajaj yang telah diberi pembekalan Bahasa Inggris.
    Para supir yang tergabung dalam Kobagas binaan PGN itu, siap mengantisipasi bajaj miliknya ditumpangi peserta Asian Games dari luar negeri.

    "PGN ingin para sopir Kobagas yang selama ini menjadi mitra kami, bisa menjadi duta Asian Games, yang ramah dan informatif ke penumpang," kata Rachmat.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?