Respons Bukit Asam Setelah Jokowi Minta BUMN Kurangi Impor

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Alat untuk memuat batu bara ke dalam gerbong kereta di areal tambang PT. Bukit Asam Tbk. Batu bara dari tambang ini dikapalkan ke Pulau Jawa hingga luar negeri. TEMPO/Parliza Hendrawan

    Alat untuk memuat batu bara ke dalam gerbong kereta di areal tambang PT. Bukit Asam Tbk. Batu bara dari tambang ini dikapalkan ke Pulau Jawa hingga luar negeri. TEMPO/Parliza Hendrawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Perusahaan pertambangan milik negara, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) berjanji mengupayakan penggunaan produk lokal demi menekan proporsi produk impor pada sejumlah proyek yang ada seperti instruksi Presiden Joko Widodo (Jokowi). Instruksi soal pengurangan penggunaan produk impor ini disampaikan Jokowi kepada seluruh Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

    Baca juga: Minta Impor Disetop, Jokowi: Saya Gak Main-main

    "Jika ada kami akan upayakan menggunakan produk lokal, sepanjang kualitas dan harganya masih bisa bersaing," kata Sekretaris Perusahaan PTBA, Suherman, saat dihubungi di Jakarta, Sabtu, 18 Agustus 2018.

    Kebutuhan akan produk impor, kata Suherman, memang masih sangat dibutuhkan meski proporsinya masih kecil. Sejumlah spare part atau suku cadang mesti didatangkan dari luar negeri karena sama sekali tidak ada barang penggantinya dari dalam negeri.

    Permintaan dari Jokowi ini muncul setelah nilai tukar rupiah yang terus melemah dalam beberapa hari terakhir. Nilai tukar rupiah saat ini sudah mencapai sekitar Rp 14.500 per dolar atau meningkat dari pertengahan Juli 2018 yang baru sekitar Rp 13.900. Selain itu, permintaan ini juga disampaikan Jokowi demi memperkuat cadangan devisa nasional.

    Menteri BUMN Rini Soemarno pun mengingatkan agar seluruh perusahaan negara terus mendorong penguatan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN). Namun pada proyek yang telah memasuki tahap financial closing, Rini tetap mengizinkan agar proyek tersebut tetap dilanjutkan meski harus mendatangkan sejumlah produk impor.

    Suherman menambahkan, sebenarnya belum ada lagi proyek baru di Bukit Asam. Proyek terakhir hanyalah Pembangkit Listrik Tenaga Uap Mulut Tambang Sumatera Selatan 8 (PLTU Sumsel 8) yang berkapasitas 2x620 megawatt (MW). "Saat ini sudah financial closing," ujarnya.

    Ada penjajakan pada proyek baru, kata dia, namun baru sebatas bankable financial closing. Proyek tersebut yaitu hilirisasi batu bara dengan PT Pupuk Indonesia, PT Pertamina, dan PT Chandra Asri Petrochemical. "Jadi arahan (Jokowi) tersebut tidak akan mengganggu kinerja operasi dan pengembangan perseroan," kata Suherman.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemprov DKI Putuskan Kalender Pendidikan Mulai 13 Juli 2020

    Pemprov DKI Jakarta menetapkan kalender pendidikan 2020/2021 dimulai 13 Juli 2020 dan selesai di Juni 2021. Pada Juli 2021, masuk kalender berikutnya.