Rehabilitasi Jaringan Irigasi Jatigede Perparah Dampak Kekeringan

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto udara suasana Waduk Jatigede di Sumedang, Jawa Barat, Senin, 9 Juli 2018. Waduk yang merupakan sarana irigasi tersebut memiliki kapasitas tampung hingga 979,5 juta meter kubik. ANTARA

    Foto udara suasana Waduk Jatigede di Sumedang, Jawa Barat, Senin, 9 Juli 2018. Waduk yang merupakan sarana irigasi tersebut memiliki kapasitas tampung hingga 979,5 juta meter kubik. ANTARA

    TEMPO.CO, BANDUNG - Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Jawa Barat Nana Nasuha Djuhri mengatakan, seluruh jaringan irigasi primer, termasuk sekunder di pantura tengah menjalani rehabilitasi total. Nana mengatakan, jaringan irigasi yang tengah menjalani rehabilitasi total oleh pemerintah pusat itu adalah jaringan irigasi yang menyalurkan air tampungan waduk Jatigede, Sumedang.

    Baca: Proyek Irigasi Lambat, Menteri Basuki: Butuh Duit Rp 930 Triliun

    “Setelah beroperasinya Jataigede, maka jaringan irigasi rentang direhab secara total. Bahkan itu (proyek) multiyears, dengan harapan nantinya ketika jaringan irigasi sudah baik maka akan meningkatkan intensitas tanam karena airnya cukup,” kata dia di Bandung, Jumat, 17 Agustus 2018.

    Nana mengatakan, Indramayu salah satu daerah yang terdampak dari perbaikan jaringan irigasi rentang dari waduk Jatigede tersebut. “Sekarang Indramayu, pasokan ketersediaan air dari Jatigede mencukupi, hanya kebetulan jaringan sedang tahap perbaikan sehingga pasokan air disesuaikan dengan kondisi jaringan yang ada,” kata dia.

    Perbaikan total jaringan irigasi rentang dari waduk Jatigede itu masih berlangsung tahun ini. Perbaikan tersebut mencakup jaringan irigasi induk di Cipelang, serta Sinduraja. “Dari sisi air cukup. Hanya pengaturannya, pelepasan airnya yang di atur. Karena kalau air dipenuhi, perbaikan terganggu. Jadi memang harus bersabar,” kata Nana.

    Nana mengatakan, jaringan irigasi rentang yang diperbaiki itu mencakup areal sawah dengan luas 89 ribu hektare. “Daerah irigasi rentang luas arealnya sekitar 89 ribu, nah itu seluruh jaringan sedang diperbaiki, yang ada di Kabupaten Majalengka Cirebon, maupun Indramayu,” kata dia. 

    Perbaikan total jaringan irigasi rentang waduk Jatigede sendiri diharapkan sudah tuntas tahun depan. “Tahun ini masih perbaikan, mudah-mudahan tahun depan sudah bisa optimal,” kata Nana. 

    Menurut Nana, imbas dampak kekeringan saat ini relatif merata di Jawa Barat. “Sekarang seluruh kabupaten ada kekeringan. Tetapi umumnya terjadi pada daerah irigasi yang memperoleh air dari bendung. Di mana saat MT (Musim Tanam) 3 ini airnya betul-betul sangat minim,” kata dia.

    Nana mengklaim, petani sudah diwanti-wanti agar tidak menanam di sejumlah daerah yang beresiko mengalami kekeringan akibat musim kemarau tahun ini. “Sebetulnya itu sudah di informasikan bahwa air terbatas, sehingga luas tanam dibatasi,” kata dia.

    Namun sejumlah petani masih memaksakan diri menanam. “Masih banyak yang tanam padi sehingga tidak sebanding dengan ketersediaan air. Pada akhirnya beberapa daerah mengalami kekeringan,” kata dia.

    Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Barat, Hendy Jatnika mengatakan, pendataan terakhir mendapai 13.173 hektare sawah di Jawa barat terdampak kekeringan. “Yang mengalami puso 1.775 hektare,” kata dia pada Tempo, Jumat, 17 Agustus 2018.

    Hendy merinci hasil laporan dampak kekeringan pada tanaman padi di Jawa Barat terhitung tanggal 15 Agustus 2018. Kategori kriteria terdampak ringan 5.338 hektare, sedang, 3.059 hektare, serta terdampak berat 3.001 hektare, serta sawah yang telah puso 1.775 hektare.

    Tanaman padi yang mengalami puso akibat kekeringan paling luas terjadi di Indramayu mencapai 1.247 hektare. Disusul Garut 191 hektare, Kabupaten Cirebon 125 hektare, Ciamis 92 hektare, Majalengka 33 hektare, Sumedang 27 hektare, Kuningan 22 hektare, Kabupaten Sukabumi 14 hektare, Kabupaten Bogor 13 hektare, Pangandaran 6 hektare,  Kabupaten bandung 3 hektare, serta Cinajur 1 hektare.

    Sejumlah daerah menghadapi dampak kekeringan tapi tidak sampai mengalami puso. Di antaranya Purwakarta, Tasikmalaya, Bekasi, Subang, serta Karawang. “Tidak mengalami puso,” kata Hendy.

    Simak berita tentang irigasi hanya di Tempo.co


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Palapa Ring Akan Rampung Setelah 14 Tahun

    Dicetuskan pada 2005, pembangunan serat optik Palapa Ring baru dimulai pada 2016.