Indef Sebut 'Kesamaan' Kondisi Ekonomi Turki dengan Indonesia

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Depresiasi Lira terjadi akibat perselisihan hubungan ekonomi Turki - AS.

    Depresiasi Lira terjadi akibat perselisihan hubungan ekonomi Turki - AS.

    TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Dzulfian Syafrian menyebut krisis ekonomi yang terjadi di Turki bisa saja terjadi di Indonesia. Sebabnya, Indonesia berada di posisi yang serupa dengan Turki.

    Baca: Indef: Atur Impor BUMN Dulu, Lalu Evaluasi Impor Swasta

    "Indonesia dan Turki sama-sama mengalami defisit ganda atau twin deficits," ujar Dzulfian kepada Tempo, Rabu, 15 Agustus 2018. Saat ini dua negara ini memang tengah mengalami defisit fiskal dan defisit neraca berjalan.

    Defisit neraca ganda ini lah yang kemudian menjadi alasan struktural dan fundamental mengapa rupiah terus melemah. Sebelumnya, Bank Indonesia menyampaikan defisit neraca berjalan melebar pada triwulan II menjadi 3 persen. Sementara Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sampai dengan Juli 2018 sebesar Rp 151,3 triliun

    Penyebab utama defisit neraca berjalan, kata Dzulfian, adalah arus modal keluar dari Indonesia ke Amerika Serikat. "Jadi dolar balik ke kandangnya," kata dia. Pelarian modal ini, menurut dia, didorong oleh terus merangkak naiknya tingkat suku bunga AS sebagai respon dari perekonomian yang terus membaik.

    Fenomena pelarian modal ini, ujar Dzulfian, tidak hanya dialami Indonesia tetapi juga negara-negara pasar berkembang lainnya, misalnya Turki. Bahkan, Turki mengalami pelarian modal yang paling parah, tercermin dari defisit neraca berjalannya yang mencapai 5 persen dari PDB.

    "Itu lah mengapa mata uang Turki, yaitu Lira, mengalami pelemahan paling parah terhadap dolar AS pada 2018 ini," kata Dzulfian. Di samping itu, ia menilai Turki melakukan blunder kebijakan denhan enggan menaikkan suku bunganya selama berbulan-bulan.

    "Padahal inflasi selalu dua digit dan mata uang mereka terus melemah dalam kurun waktu belakangan," kata Dzulfian.

    Baca: INDEF: Isu Ekonomi Krusial bagi Capres

    Dzulfian melihat Turki memaksakan rezim suku bunga rendah karena mereka masih ingin mengundang investasi asing untuk ditanam di negeri mereka. Padahal hal ini sulit terjadi mengingat pengetatan kebijakan moneter yang dilakukan oleh AS. "Jadi, krisis Lira ini adalah buah dari blunder kebijakan ekonomi."

    Ia berharap pemerintah bisa mengambil pelajaran dari kasus krisis di Turki itu agar cermat dalam mengambil kebijakan ekonomi. "Semoga kita bisa belajar dari krisis Lira Turki ini," kata Ekonom Indef ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.