Rupiah Tembus 14.625 per Dolar AS, Terendah Sejak 2015

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang karyawan money changer menghitung uang kertas Rupiah, di Jakarta, 15 Desember 2014. Akibat anjloknya Rupiah, sebagian pihak menganggap Rupiah adalah mata uang sampah, namun sebagian pihak memprediksi, pekan depan Rupiah akan membaik. Adek Berry/AFP/Getty Images

    Seorang karyawan money changer menghitung uang kertas Rupiah, di Jakarta, 15 Desember 2014. Akibat anjloknya Rupiah, sebagian pihak menganggap Rupiah adalah mata uang sampah, namun sebagian pihak memprediksi, pekan depan Rupiah akan membaik. Adek Berry/AFP/Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan. Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar rate alias JISDOR Bank Indonesia, nilai tukar rupiah pada 14 Agustus 2018 adalah Rp 14.625 per dolar AS.

    Baca: Krisis Turki Diprediksi Masih Bikin Rupiah Melemah Hari Ini

    "Setelah sempat menguat dan stabil di awal Juli, nilai tukar kembali terdepresiasi ke kisaran Rp 14.600, terendah sejak tahun 2015," ujar Febrio Kacaribu, Kepala Penelitian Kajian Makroekonomi dan Kebijakan pasar Keuangan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia dalam keterangan tertulis yang diterima Tempo, Selasa, 14 Agustus 2018.

    Dari catatan Tempo, pada 5 Oktober 2015, kurs rupiah sempat menginjak Rp 14.604 per dolar AS. Belakangan nilai tukar rupiah menjadi perbincangan hangat kala mengalami pelemahan ke level Rp 14.400 per dolar AS. kala itu, perang dagang baru saja dimulai negeri Abang Sam. Di samping itu, Bank Sentral AS, The Fed, juga menaikkan suku bunga acuannya.

    Baca: Nilai Tukar Rupiah Melemah, Sandiaga Uno: Karena Impor

    Rupiah semakin terpukul oleh krisis yang terjadi di Turki pada Senin lalu. Lira Turki anjlok secara signifikan dalam dua pekan, dari 4,99 per dolar AS menjadi 6,90 per dolar AS. Febrio berujar pelemahan nilai tukar mata uang negeri kebab itu disebabkan antara lain oleh kondisi ekonomi yang relatif rapuh serta defisit transaksi berjalan yang tinggi.

    Di samping itu, kondisi perpolitikan di Turki juga membuat kepercayaan investor melemah. "Belum lagi sanksi Amerika Serikat mendorong aksi jual besar-besaran di Turki," ujar Febrio. "Aksi jual ini menyebarkan sentimen negatif ke negara-negara berkembang lainnya, terutama yang memiliki profil ekonomi yang sama dengan Turki."

    Akibatnya, kata Febrio, sentimen positif investor yang sempat kembali akibat pertumbuhan dalam negeri yang melebihi ekspektasi, yaitu 5,27 persen, dengan cepat hilang. Hal ini terlihat dari melemahnya arus modal bersih yang sempat menjadi positif di akhir Juli di tengah melemahnya nilai Rupiah.

    Seperti diketahui, imbal hasil obligasi pemerintah, yang di minggu ketiga dan keempat Juli juga sempat turun cukup signifikan, kembali naik di hari Senin kemarin. "Itu setelah aksi jual yang didorong pelemahan Lira Turki," ujar Febrio.

    Simak berita menarik lainnya terkait rupiah hanya di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.