Krisis Turki Diprediksi Masih Bikin Rupiah Melemah Hari Ini

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi mata uang rupiah . REUTERS/Beawiharta

    Ilustrasi mata uang rupiah . REUTERS/Beawiharta

    TEMPO.CO, Jakarta - Analis Panin Sekuritas William Hartanto memprediksi rupiah kembali melemah hari ini, 14 Agustus 2018, masih karena faktor eksternal krisis Turki. Menurut William, rupiah akan bergerak di kisaran Rp 14.550 - Rp 14.700 per dolar Amerika Serikat.

    Baca juga: Rupiah Jeblok, Luhut: RI Lebih Baik Ketimbang 3 Negara Ini

    "Faktornya krisis Turki dan masih cukup lama pelemahan ini berlangsung," ujar William saat dihubungi, Selasa, 14 Agustus 2018.

    Dalam situs resmi Bank Indonesia, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR mencatat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tembus di angka Rp 14.583 pada Senin 14 Agustus 2018. Angka tersebut menunjukkan pelemahan 146  poin dari nilai sebelumnya, yaitu Rp 14.437 pada penutupan Jumat, 10 Agustus 2018.

    Sedangkan pada 14 Agustus 2018, kurs jual US$ 1 terhadap rupiah, yaitu Rp 14.656 dan kurs beli Rp 14.510.

    William melihat krisis Turki saat ini akan paling berpengaruh terhadap mata uang.

    "Ada isu apapun yang kena mata uang duluan, sedangkan di pasar modal walaupun kemarin turun tapi investor asing nett sell kecil, jadi efek krisis Turki seperti tidak terlalu dikhawatirkan pada IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan)," ujar William.

    Sedangkan Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta memperkirakan pergerakan rupiah terhadap dolar AS akan bervariatif dengan kecenderungan melemah hari ini. Nafan memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp 14.440 - Rp 14.720.

    "Perspektif teknikal terlihat pola three outside up candlestick pattern pada daily chart yang mengindikasikan adanya potensi depresiasi lanjutan bagi rupiah terhadap dolar AS," ujar Nafan.

    Dari sisi perspektif fundamental, kata Nafan, rupiah diprediksi melemah akibat minimnya sentimen positif dari dalam negeri. Melebarnya defisit transaksi berjalan kuartal II sebanyak US$ 8 miliar dari sebelumnya defisit sebanyak 5,7 dolar AS menyebabkan rupiah tertekan terhadap dolar AS.

    "Apalagi defisit tersebut melebar hingga mencapai 3 persen dari PDB Indonesia," kata Nafan

    Di sisi lain, menurut Nafan secara eksternal, krisis Turki yang berkelanjutan juga berdampak pada pelemahan mata uang global lainnya, termasuk rupiah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.