Rupiah Jeblok, Bappenas: Indonesia Dianggap Sama Dengan Turki

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri BUMN Rini Soemarno (kanan) berbincang dengan Menteri PPN / Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro sebelum mengikuti Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, 5 Maret 2018. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

    Menteri BUMN Rini Soemarno (kanan) berbincang dengan Menteri PPN / Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro sebelum mengikuti Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, 5 Maret 2018. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro melihat pelemahan rupiah belakangan ini disebabkan oleh konsolidasi investor akibat depresiasi nilai tukar mata uang Turki, Lira. Hari ini, Rupiah melemah hingga menembus Rp 14.600 per dolar Amerika Serikat.

    Baca: Krisis Turki, Hubungan Dagang Turki dan Indonesia Terimbas?

    "Indonesia dan Turki dianggap sama-sama emerging market, jadi di tahap-tahap awal ini pasti ada semacam konsolidasi dari investor melihat emerging market," ujar Bambang di Hotel Royal Kuningan, Jakarta Selatan, Senin, 13 Mei 2018.

    Konsolidasi itu, menurut Bambang, adalah hal wajar pada awal krisis Turki ini. Namun, ternyata hal tersebut berimbang terhadap nilai rupiah. Ia akan memantau tren pelemahan nilai tukar itu dalam beberapa waktu ke depan. "Apakah tren rupiah ini mulai membaik kembali, atau kita kembali dianggap seperti Turki."

    Namun, Bambang yakin Indonesia mestinya dianggap berbeda dengan Turki. Sebab, ada beberapa parameter yang menurut dia membuat Indonesia sangat berbeda dengan Turki, antara lain Indonesia memiliki independensi Bank Sentral.

    "Karena Turki itu kan ada unsur intervensi dari pemerintah terhadap bank sentral," ujar Bambang. Selain itu angka inflasi indonesia yang berkisar 3-4 persen jauh berbeda dengan Turki yang menembus 10 persen. "Jadi ini yang akan memberika perbedaan yang luar biasa," ujar Bambang.

    Nilai tukar rupiah kembali melemah pada hari ini, Senin, 13 Agustus 2018. Berdasarkan RTI Business pukul 18.44 WIB, kurs tercatat pada level Rp 14.629 per dolar AS atau anjlok 0,99 persen setelah dibuka pada level Rp 14.486 per dolar AS.

    Sementara, Jakarta Insterspot Dollar Rate Bank Indonesia alias JISDOR BI mencatat rupiah berada pada level Rp 14.583 per dolar AS. Angka tersebut menunjukkan pelemahan yang signifikan bila dibandingkan pada Jumat pekan lalu yang tercatat Rp 14.437 per dolar AS.

    Rupiah sempat menembus level Rp 14.503 per dolar AS pada 3 Agustus 2018. Namun rupiah berangsur menguat pada pekan berikutnya dengan mencapai Rp 14.481 pada 6 Agustus 2018. Kurs terus menguat hingga puncaknya Rp 14.422 per dolar AS pada 9 Agustus 2018, sebelum akhirnya kembali loyo.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.