Luhut Sebut Rupiah Jeblok Bukan Hanya Karena Krisis Turki

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan usai Afternoon Tea dengan media di kantornya, Rabu, 1 Agustus 2018. Tempo/Hendartyo Hanggi

    Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan usai Afternoon Tea dengan media di kantornya, Rabu, 1 Agustus 2018. Tempo/Hendartyo Hanggi

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengatakan anjloknya nilai tukar rupiah hingga menembus Rp 14.600 per dolar Amerika Serikat bukan hanya disebabkan oleh krisis di Turki. Belakangan, nilai tukar mata uang Turki, Lira, memang tengah mengalami depresiasi.

    Baca: Rupiah Melemah, Kepala BKPM: Investasi Kuartal II Tumbuh Melambat

    "Itu juga karena Amerika Serikat juga akan menaikkan kembali suku bunganya," ujar Luhut di Hotel Royal Kuningan, Jakarta Selatan, Senin, 13 Agustus 2018.

    Lantaran bank sentral AS, The Fed, diprediksi bahkan menaikkan kembali suku bunga acuannya, ujar dia, para pelaku ekonomi jadi melakukan langkah antisipasi yang berimbas pada nilai tukar rupiah. Meski demikian, Luhut tidak mempermasalahkan loyonya kurs rupiah itu. "Enggak apa-apa."

    Luhut mengatakan, bukan hanya rupiah yang terpengaruh oleh kondisi global, namun juga negara-negara lainnya. Yang terpenting, ia menyebut fundamental perekonomian Indonesia tetap sehat dan kuat.

    Deputi Bidang Kedaulatan Maritim Kemenko Maritim Purbaya Yudhi Sadewa memperkuat argumen Luhut, Ia menyebut pondasi perekonomian Indonesia masih baik. Adapun pelemahan yang terjadi, sifatnya hanya sementara.

    "Ekonomi kita enggak apa-apa, hanya investor belum mengetahui kondisi itu," ujar Purbaya. "Kalau sudah sadar, mereka akan berebut kembali ke sini."

    Nilai tukar rupiah kembali melemah pada hari ini, Senin, 13 Agustus 2018. Berdasarkan RTI Business pukul 18.44 WIB, kurs tercatat pada level Rp 14.629 per dolar AS atau anjlok 0,99 persen setelah dibuka pada level Rp 14.486 per dolar AS.

    Sementara, Jakarta Insterspot Dollar Rate Bank Indonesia alias JISDOR BI mencatat rupiah berada pada level Rp 14.583 per dolar AS. Angka tersebut menunjukkan pelemahan yang signifikan bila dibandingkan pada Jumat pekan lalu yang tercatat Rp 14.437 per dolar AS.

    Baca: Krisis Turki, Hubungan Dagang Turki dan Indonesia Terimbas?

    Rupiah sempat menembus level Rp 14.503 per dolar AS pada 3 Agustus 2018. Namun rupiah berangsur menguat pada pekan berikutnya dengan mencapai Rp 14.481 pada 6 Agustus 2018. Kurs terus menguat hingga puncaknya Rp 14.422 per dolar AS pada 9 Agustus 2018, sebelum akhirnya kembali loyo.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.