Rabu, 15 Agustus 2018

3 Pekan Pasokan Elpiji di Bali Terhambat, Pertamina: Kini Pulih

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana pengisian gas Elpiji tabung 3 kg di Depot LPG Tanjung Priok, Jakarta, 21 Mei 2018. Depot ini mampu mendistribusikan Elpiji 3 kg sebanyak 66.000 tabung per harinya dengan pendistribusian wilayah DKI Jakarta. TEMPO/Tony Hartawan

    Suasana pengisian gas Elpiji tabung 3 kg di Depot LPG Tanjung Priok, Jakarta, 21 Mei 2018. Depot ini mampu mendistribusikan Elpiji 3 kg sebanyak 66.000 tabung per harinya dengan pendistribusian wilayah DKI Jakarta. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Denpasar PT Pertamina (Persero) menyatakan penyaluran elpiji di Bali sudah mulai pulih setelah sempat mengalami keterlambatan pasokan selama sekitar tiga minggu terakhir karena terdampak gelombang tinggi. "Seiring dengan waktu dan cuaca yang sudah mulai membaik, saat ini kami sudah memasuki tahap pemulihan," kata perwakilan Pertamina Pemasaran Bali Rainier Axel Gultom di Denpasar, Kamis, 9 Agustus 2018.

    Baca: Pertamina Resmi Jadi Pengelola Baru Blok Sanga-Sanga

    Rainier menjelaskan, tahap pemulihan yang dimaksud di antaranya adalah kapal sudah mulai bisa sandar secara normal. "Dan pola pasokan normal sudah bisa dijalankan kembali," ucapnya. 

    Selama masa pemulihan, Pertamina mengadakan pasar murah elpiji 3 kilogram serentak pada hari Kamis ini di seluruh kecamatan di Pulau Dewata. Harga per tabung elpiji di pasar murah itu dijual sesuai dengan harga eceran tertinggi di Bali yakni Rp 14.500. Pertamina mencatat rata-rata penyaluran produk elpiji subsidi 3 kilogram sebanyak 630 metrik ton per hari dan Bright Gas 5,5 kilogram dan 12 kilogram sebesar 40 metrik ton per hari.

    Baca: Pasca Gempa Lombok, SPBU Pertamina Batasi Pembelian BBM

    Sebelumnya, cuaca buruk yang terjadi beberapa hari terakhir turut mempengaruhi distribusi gas minyak cair itu karena gelombang tinggi di perairan Bali yang sempat mencapai 4-6 meter berdasarkan prakiraan BMKG. Walhasil kapal pengangkut elpiji beberapa kali gagal sandar di Depo LPG Manggis, Karangasen, meski saat itu kapal sudah berlabuh.

    Rainier menyebutkan karena pertimbangan syarat keamanan dalam proses sandar dan bongkar muatan, kapal elpiji tidak memungkinkan untuk mendekat karena ombak dan arus yang keras. Untuk mengantisipasi kondisi itu dan menjaga pasokan aman, BUMN tersebut menjalankan pola penyaluran darurat dengan mengalihkan pengisian tangki elpiji atau skid tank melalui Depo elpiji Banyuwangi karena kondisi perairan masih lebih memungkinkan dilalui.

    Meski begitu, kata Rainier, pola tersebut menyebabkan waktu dan jarak tempuh menjadi lebih lama sehingga mengakibatkan penyaluran elpiji dari Stasiun Pengangkutan dan Pengisian Bulk Elpiji (SPPBE) Pertamina ke agen mengalami pembatasan. Normalnya jarak tempuh yang biasa dilalui mencapai 5-6 jam pulang pergi namun dengan pola darurat melalui Depo Banyuwangi, jarak tempuh menjadi sekitar 10-12 jam pulang pergi. "Saat ini pasokan sudah dari Depo elpiji di Manggis, Karangasem," tuturnya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Fatwa MUI dan Buah Pikir Ma'ruf Amin, Calon Wakil Jokowi

    Beberapa buah pikiran Ma'ruf Amin, Ketua Majelis Ulama Indonesia pilihan Jokowi untuk menjadi wakilnya, yang mengundang komentar publik.