Rabu, 15 Agustus 2018

Ketika Sri Mulyani Mendengar Curhat Kalangan Eksportir

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. TEMPO/Subekti

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati tadi siang menemui para eksportir di kantor Direktorat Jenderal Bea Cukai Kementerian Keuangan. Kegiatan itu adalah tindak lanjut pertemuan Presiden Joko Widodo atau Jokowi dengan para pelaku ekspor sebelumnya.

    Baca: Defisit BPJS Kesehatan, Sri Mulyani: Hitungannya Sangat Goyang

    Dalam pertemuan itu, salah seorang eksportir, Welly Soegiono, berkeluh kesah mengenai ekspor kepada Sri Mulyani. Pria yang menjabat Direktur Perusahaan Great Giant Foods itu mengeluhkan tingginya bea masuk untuk ekspor buah-buahan ke sejumlah negara.

    "Kami mengalami masalah di ekspor, khususnya mengenai pengenaan bea masuk," ujar Welly di Kantor Ditjen Pajak, Jakarta, Selasa, 7 Agustus 2018.

    Baca: Syarat Berswafoto dengan Sri Mulyani: Sudah Bayar Pajak

     

    Welly mencontohkan untuk komoditas pisang. Kata dia, pisang tanah air kena bea masuk sebesar 30 persen ke Korea Selatan. Padahal, Vietnam yang juga eksportir pisang hanya dikenai 15 persen.

    Hal serupa juga dialami Welly saat mengekspor pisang ke Jepang. Negeri Sakura mengenakan bea masuk pisang Indonesia 3 persen lebih mahal dari pisang Filipina.

    Begitu juga untuk ekspor ke Eropa, pisang Indonesia dikenai bea masuk 15 persen. Di saat yang sama, Filipina sama sekali tidak dikenai bea masuk. "Ini sudah 10 tahun terjadi, padahal masing-masing kementerian punya dirjen kerjasama luar negeri," kata Welly.

    Perkara lainnya, Welly mengeluhkan sulitnya memasok nanas segar ke Cina. Dia berujar telah berupaya berkomunikasi dengan pemerintah negeri tirai bambu sejak sepuluh tahun lalu. Namun upaya itu belum berbuah hasil. "Kami sudah berusaha sendiri menjalin komunikasi business to business, tapi dari pemerintahnya masih belum bisa," ujarnya.

    Padahal negara ASEAN lainnya, seperti Malaysia, Filipina, dan Thailand sudah bisa memasok nanas ke Cina. Berdasarkan proyeksinya, Welly menjamin akan ada peningkatan ekspor sebesar US$ 50 juta dari nanas segar pada tahun pertama.

    Welly menjelaskan volume ekspornya pada tahun 2017 sekitar 12 ribu kontainer. "Tahun ini 13 ribu kontainer per tahun," katanya. "Kalau Cina bisa kami masuki, pada tahun pertama pasti bertambah lagi (jumlahnya)."

    Untuk itu, Welly mengusulkan agar pemerintah melakukan lobi ke pemerintah Cina mengingat negeri tirai bambu sejatinya kekurangan nanas segar. "Pendekatannya, katakan bahwa kita memberi solusi nanas yang bagus dan murah, ketimbang dia mendatangkan dari Kostarika," ujarnya.

    Mendengar masukan dari Welly, Sri Mulyani mengatakan akan meneruskannya kepada pihak-pihak yang berkaitan. "Masukannya bagus, nanti saya laporkan," ujar dia. "Tapi kondisi seperti itu selama sepuluh tahun saja, Bapak masih ekspor ya?" 

    Welly pun menimpali pernyataan Sri Mulyani, "Ini mengandalkan rezeki anak yang saleh," ucapnya. Pernyataan Welly lalu disambut gelak tawa peserta yang lain.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Fatwa MUI dan Buah Pikir Ma'ruf Amin, Calon Wakil Jokowi

    Beberapa buah pikiran Ma'ruf Amin, Ketua Majelis Ulama Indonesia pilihan Jokowi untuk menjadi wakilnya, yang mengundang komentar publik.