Kamis, 15 November 2018

Rupiah Melemah, Kepala BKPM: Investasi Kuartal II Tumbuh Melambat

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala BKPM Thomas Lembong saat Memberikan Keterangan Pers Realisasi Investasi Kuartal I di Kantor BKPM Jakarta, 26 April 2017. Tempo/Tongam sinambela

    Kepala BKPM Thomas Lembong saat Memberikan Keterangan Pers Realisasi Investasi Kuartal I di Kantor BKPM Jakarta, 26 April 2017. Tempo/Tongam sinambela

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal atau BKPM, Thomas Tri KasihLembong, menyatakan, investasi yang melemah pada kuartal kedua tahun 2018 salah satunya disebabkan oleh siklus politik dan gejolak nilai tukar mata uang rupiah. Hal ini menanggapi pertumbuhan investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) per kuartal kedua sebesar 5,87 persen yang lebih rendah ketimbang kuartal-kuartal sebelumnya yang bisa mencapai hampir 8 persen.

    Baca: Jokowi Minta Menterinya Serius: Negara Ini Sedang Butuh Dolar

    "Jadi triwulan II di bawah 6 persen," kata Thomas ketika ditemui seusai Sidang Kabinet Paripurna di lingkungan Istana Kepresidenan, Selasa, 7 Agustus 2018. 

    Thomas menyebutkan faktor yang paling signifikan dalam mempengaruhi investasi adalah kurs rupiah. "Makanya pemerintah harus fokus pada upaya menstabilkan nilai tukar rupiah. Pakai kaca mata pengusaha, kalau enggak yakin rupiah enggak stabil kan tunggu, siapa tahu lebih murah," ucapnya.

    Baca: Rupiah Jeblok, Luhut: RI Lebih Baik Ketimbang 3 Negara Ini

    Perlambatan investasi ini, menurut Thomas, juga tergolong natural karena siklus politik. "Karena setiap kita lihat siklus 20 tahunan ini pasti melambat. Tapi tahun ini tentu diamplifikasi oleh gejolak mata uang global termasuk rupiah sehingga banyak orang menunda," tuturnya. Ia menyebutkan pencapaian investasi sampai akhir 2018 itu bergantung kepada implementasi dan eksekusi sejumlah rencana pemerintah.

    Salah satunya adalah implementasi kebijakan biodiesel atau kebijakan mencampurkan minyak sawit dengan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar. Kebijakan itu sebagai bagian dari upaya mengurangi impor minyak dan gas yang menyumbang aliran dana ke luar negeri (outflow) yang cukup besar.

    "Kalau disiplin dan eksekusi yang baik akan ada dampaknya ke devisa. Ini yang akan mengembalikan keyakinan investor bahwa rupiah stabil," kata Thomas. Saat ini pemerintah menggodok solusi lain yang konkret yang bisa dieksekusi untuk menambah penghasilan devisa atau mengurangi pengeluaran devisa.

    Seperti diketahui, nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat dalam kurun beberapa waktu terakhir. Nilai tukar rupiah mencapai level di atas Rp 14.000 terhadap dolar AS.

    Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani berharap investasi dapat meningkat pada semester II/2018. Pernyataan itu disampaikannya ketika dimintai tanggapan mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,27 persen pada kuartal II/2018. Dari sejumlah komponen Produk Domestik Bruto (PDB), nilai ekspor barang turun sebesar 1,19 persen dan impor barang naik 2,56 persen.

    Sri Mulyani menyebutkan kenaikan impor bahan baku dan barang modal seharusnya diterjemahkan menjadi investasi yang tinggi. Namun, investasi pada kuartal II di 2018 hanya tumbuh sebesar 5,87 persen atau lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan PMTB pada kuartal-kuartal lainnya. Sri menyatakan investasi yang tinggi belum terlihat pada kuartal II di 2018. "Mungkin saja itu (investasi yang meningkat) munculnya di semester II," kata Sri Mulyani.

    Simak berita menarik lainnya terkait Rupiah hanya di Tempo.co.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Horor Pembunuhan Satu Keluarga Di Bekasi

    Satu keluarga dibunuh di Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, pada Selasa, 12 November 2018.