Minggu, 19 Agustus 2018

Ribuan TKA Cina di Morowali, Bagaimana Awal Kisahnya?

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah buruh membetangkan poster bertuliskan May Day di Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, 1 Mei 2018. Pada aksinya mereka menuntut kenaikan upah dan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 20 Tahun 2018 tentang penggunaan Tenaga Kerja Asing (TKA). Berikut warna-warni demo buruh yang digelar di beberapa titik di ibu kota. TEMPO/Fakhri Hermansyah

    Sejumlah buruh membetangkan poster bertuliskan May Day di Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, 1 Mei 2018. Pada aksinya mereka menuntut kenaikan upah dan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 20 Tahun 2018 tentang penggunaan Tenaga Kerja Asing (TKA). Berikut warna-warni demo buruh yang digelar di beberapa titik di ibu kota. TEMPO/Fakhri Hermansyah

    TEMPO.CO, Morowali - Ribuan tenaga kerja asing atau TKA Cina memadati wilayah industri di kawasan Morowali. Menurut CEO PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) Alexander Barus, jumlahnya tak sampai jutaan orang seperti yang ramai disebutkan di media sosial.

    Baca: Menaker: Sejak 2007, Mayoritas Tenaga Kerja Asing dari Cina

    Alexander mengatakan, jumlah TKA Cina di kawasan industri Morowali saat ini sekitar 3.121 orang. TKA tersebut terbagi menjadi dua jenis yaitu TKA yang bekerja sebagai kontraktor dan yang bekerja dibidang operasional.

    Ia menjelaskan TKA Cina yang bekerja sebagai kontraktor akan langsung kembali ke negaranya setelah pekerjaan selesai. "Yang tinggal agak lama itu yang TKA bagian operasional," kata dia di kantor IMIP, Morowali, Sulawesi Tengah, Senin malam, 6 Juli 2018.

    Baca: Marak Isu Serbuan Tenaga Kerja Asing Cina, Ini Tanggapan Jokowi

    Menurut dia pihaknya akan terus mengurangi jumlah TKA yang bekerja di IMIP salah satunya dengan sistem tandem. Sistem tandem tersebut dimaksudkan agar ada transfer ilmu antara TKA dan pekerja lokal.

    "Kami tandemkan satu Cina satu Indonesia. Kalau sudah bisa, orang China nanti keluar dan digantikan Indonesia," ujar dia.

    Alex menjelaskan saat ini pihaknya sudah mulai menggantikan tenaga teknis TKA di lapangan dengan tenaga kerja Indonesia. Namun, ia menjelaskan ada beberapa pekerjaan yang memang belum memungkinkan untuk mengganti TKA dengan tenaga kerja Indonesia.

    "Salah satunya itu seperti yang berhubungan dengan furnace, kan itu panas sekali. Nah orang kita belum bisa tahan dekat-dekat dengan furnace itu," ujar dia.

    Dengan mempekerjakan TKA tersebut, kata Alexander, transfer ilmu akan menjadi lebih cepat. Selain itu, dalam jangka panjang mempekerjakan TKA saat ini dapat menghemat ketahanan baik dalam sisi manitanence, upgrading dan ongkos.

    "Disini kan banyak fasilitas yang kalau asing memang perlu disediakan. Ini kan nanti bisa menghemat kalau dilihat jangka panjang. Jangka pendek memang tidak terlihat," ujar dia.

    Kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) memiliki 16 perusahaan yang bekerja di dalamnya. Berdasarkan data per 31 Juli 2018 yang diterima Tempo, total pekerja di IMIP yaitu 28.568 orang. Angka tersebut terbagi menjadi dua yaitu tenaga kerja asing dan tenaga kerja Indonesia.

    Jumlah tenaga kerja Indonesia yang bekerja langsung di kawasan IMIP yaitu 25.447 orang. Sedangkan tenaga kerja asing yang bekerja langsung di kawasan berjumlah 3.121 orang. Jika dihitung berdasarkan total pekerja langsung di kawasan IMIP yaitu sebesar 10,9 persennya adalah TKA Cina.

    Tenaga kerja asing tersebut tersebar di 16 perusahaan dengan jumlah terbanyak berada di PT Indonesia Guang Ching Nickel & Stainless Steel Industry (GCNS) sebesar 833 orang. Sementara itu PT Sulawesi Mining Investment (SMI) memiliki 597 TKA dan PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel sebanyak 556 TKA Cina.

    Sementara itu, jumlah tenaga kerja terserap atau pekerja tak langsung dalam industri pendukung kawasan IMIP seperti kontraktor dan supplier yaitu sebesar 53.594 orang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika Liku Crazy Rich Asians

    Film komedi romantis Crazy Rich Asians menarik banyak perhatian karena bersubjek keluarga-keluarga superkaya Asia Tenggara. Berikut faktanya.