Jumat, 19 Oktober 2018

Rupiah Loyo, Sri Mulyani Waspadai Imported Inflation

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pertemuan Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Panjaitan dan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara dengan Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim dkk di kantor pusat Bank Dunia, Washington DC, Rabu pagi 18 April 2018. TEMPO/ WAHYU MURYADI

    Pertemuan Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Panjaitan dan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara dengan Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim dkk di kantor pusat Bank Dunia, Washington DC, Rabu pagi 18 April 2018. TEMPO/ WAHYU MURYADI

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut tingkat inflasi Indonesia masih cukup stabil rendah di level 3,2 persen. Meski demikian, ia mewaspadai adanya imported inflation atau inflasi yang berasal dari luar negeri pada semester II 2018.

    Baca: Sri Mulyani: Negara Dirugikan Rp 57 Miliar Akibat Miras Ilegal

    "Kita tentu harus hati-hati melihat depresiasi rupiah yang biasanya terjemahannya imported inflation," ujar Sri Mulyani di Kementerian Pertahanan, Jakarta, Senin, 6 Agustus 2018. Imported inflation biasanya disebabkan oleh kenaikan harga komoditas di luar negeri, atau melemahnya nilai tukar mata uang.

    Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate Bank Indonesia, kurs rupiah berada pada angka Rp 14.481 per dolar Amerika Serikat pada hari ini. Angka tersebut menguat ketimbang Jumat lalu, 3 Agustus 2018, yang mencapai Rp 14.503 per dolar AS.

    Untuk itu, Sri mulyani berujar salah satu langkah yang bisa ditempuh pemerintah adalah menjaga pasokan makanan di pasar, khususnya untuk barang-barang administered price. Dengan begitu, ia berharap inflasi bisa dijaga di level 3,5 persen.

    Apabila inflasi bisa terjaga di level tersebut, Sri Mulyani optimistis tingkat konsumsi masyarakat pada semester II juga bisa cukup baik. Konsumsi adalah salah satu pemicu utama yang mendongkrak pertumbuhan ekonomi triwulan II mencapai 5,27 persen.

    Sri Mulyani berujar tingginya konsumsi pada triwulan II 2018 ditengarai lantaran adanya masa Lebaran pada Juni 2018. "Kemungkinan itu juga faktor seasonal," ujar Sri Mulyani lagi. Pada periode itu, ujar dia, memang melalui hari raya Lebaran. "Saat itu kan ada THR, tunjangan ke-13 dan libur panjang, itu semua memberikan efek positif."

    Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto menuturkan tingginya pertumbuhan pada triwulan II didukung oleh seluruh lapangan usaha. "Pertumbuhan tertinggi dicaapai oleh lapangan usaha jasa lainnya sebesar 9,22 persen," ujar dia di Kantor BPS. Selanjutnya, ia mengatakan kontribusi pertumbuhan tersebut disusul oleh jasa perusahaan 8,39 persen dan transportasi pergudangan 8,59 persen.

    Suhariyanto berujar, jika dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi pada triwulan kedua 2018, industri pengolahan tumbuh 0,84 persen. Kemudian, perdagangan besar eceran, reparasi mobil dan sepeda motor tumbuh 0,69 persen, pertahuan, kehutanan, dan perikanan tumbuh 0,64 persen, konsstruksi 0,55 persen, dan transportasi pergudangan 0,35 persen.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Bravo 5 dan Cakra 19, Dua Tim Luhut untuk Jokowi di Pilpres 2019

    Menyandang nama Tim Bravo 5 dan Cakra 19, dua gugus purnawirawan Jenderal TNI menjadi tim bayangan pemenangan Jokowi - Ma'ruf Amin di Pilpres 2019.