Bank Hongkong Disebut Tertarik Beri Pinjaman ke Inalum

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ngobrol @Tempo bertajuk

    Ngobrol @Tempo bertajuk "Lika Liku Akuisisi Saham Freeport" di Jakarta pada Senin, 6 Agustus 2018. (TEMPO/Beny Nurmansyah)

    TEMPO.CO, Jakarta - Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategi dan Media, Kementerian BUMN, Fajar Harry Sampurno mengatakan akan ada 11 bank yang akan memberikan pinjaman ke PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). Pinjaman tersebut yang akan digunakan untuk membeli saham Freeport.

    BACA: Inalum - Freeport Teken Perjanjian, Jokowi: Usahanya Sangat Alot

    "Dari 11 bank itu ada dari Jepang dan Hongkong," ujar dia dalam acara diskusi Ngobrol bareng Tempo di hotel JS Luwansa, Senin, 6 Agustus 2018.

    Fajar menjelaskan alasan bank asing mau membeikan pinjaman, karena Inalum memiliki prospek yang jelas dan menguntungkan. Selain itu, bunga dari bank asing lebih kecil dibandingkan bunga Bank dalam negeri.

    Menurut Fajar, alasan Bank BUMN tidak mau memberikan pinjaman, dikarenakan kurs yang tidak stabil dan dana yang dimiliki tidak sebesar bank asing. "Bank BUMN tidak punya alokasi besar," tutur dia.

    Sebelumnya, Harry menyebut ada 11 bank pemberi pinjaman kepada Inalum untuk membeli divestasi saham PT Freeport Indonesia. Namun, ia menyebut jumlah tersebut sudah termasuk tiga bank BUMN selain bank-bank asing.

    "Sebelas mungkin termasuk BUMN yang tidak jadi, yaitu tiga bank. Tapi ya mungkin ada tambahan lagi, saya kurang tahu," katanya tanpa menjelaskan lebih rinci.

    Sesuai kesepakatan pokok-pokok perjanjian atau head of agreement (HoA) yang ditandatangani pada 12 Juli 2018, Inalum akan membeli saham divestasi Freeport senilai US$ 3,85 miliar.

    Simak: Inalum Siap Talangi BUMD Beli Saham Freeport 

    Bank asal Jepang, The Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ Lt, akan menjadi pimpinan bank pemberi kredit sindikasi kepada Inalum untuk menguasai 51 persen saham PT Freeport Indonesia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).