Sabtu, 15 Desember 2018

Rupiah Jeblok, Luhut: RI Lebih Baik Ketimbang 3 Negara Ini

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde didampingi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan saat mengunjungi Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Cilincing Jakarta, 28 Februari 2018. Tempo/Syafiul Hadi

    Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde didampingi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan saat mengunjungi Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Cilincing Jakarta, 28 Februari 2018. Tempo/Syafiul Hadi

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan baru saja rapat bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla dan beberapa menteri untuk membahas soal perekonomian. Ia menyebut perekonomian Indonesia masih bisa bertahan di tengah kecamuk ekonomi global.

    Baca: Luhut Sebut Dana yang Telah Digunakan untuk IMF World Bank Rp 566 Miliar

    Contohnya saja pada nilai tukar rupiah. Menurut Luhut, meski sempat mengalami depresiasi, kondisi rupiah masih di level menengah ketimbang negara lain. "Kita masih lebih baik dari banyak negara, dari India, Turki, Brasil, dan negara lainnya," ujar Luhut di Hotel Pullman, Jakarta, Senin, 6 Agustus 2018.

    Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate Bank Indonesia, kurs rupiah berada pada angka Rp 14.481 per dolar Amerika Serikat pada hari ini. Angka tersebut menguat ketimbang Jumat lalu, 3 Agustus 2018, yang mencapai Rp 14.503 per dolar AS.

    Baca: AirAsia Buka Rute Silangit - Kuala Lumpur, Ini Harapan Luhut

    Selain soal kurs, Luhut percaya pemerintah masih bisa memelihara inflasi. Hingga saat ini, ujar dia, inflasi masih dijaga di level 3,2 persen. "Kami yakin sampai akhir tahun inflasi kami masih di bawah 4 persen."

    Dengan demikian, Luhut meyakini pertumbuhan ekonomi triwulan II berada di kisaran 5,2 - 5,3 persen. Ia menegaskan pemerintah terus memperhatikan banyak hal. "Kami tidak ingin ada yang terlupa sehingga ekonomi indonesia terganggu," ujar Luhut lagi.

    Perusahaan finansial asal Swiss, UBS AG, sebelumnya memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,3 persen pada 2018. Ekonom senior UBS Edward Teather berujar proyeksi itu muncul lantaran adanya perbaikan pada pertumbuhan belanja konsumsi menyusul percepatan investasi yang ada. "Adanya percepatan di pertumbuhan penjualan ritel menambah keyakinan kami akan proyeksi ini," ujar dia dikutip dalam keterangan resmi UBS.

    Menurut Edward, langkah Bank Indonesia sudah cukup jelas, baik dalam bentuk aksi maupun pernyataannya. Pengetatan kebijakan dilakukan sebagai langkah pre-emptive dan didasari oleh faktor eksternal, bukan pertumbuhan domestik maupun inflasi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penyerangan Polsek Ciracas Diduga Ada Konflik TNI dan Juru Parkir

    Mabes Polri akan mengusut penyerangan Polsek Ciracas yang terjadi pada Rabu, 12 Desember 2018 dini hari. Diduga buntut konflik TNI dengan juru parkir.