Selasa, 23 Oktober 2018

Airlangga Punya Ide Kurangi Impor dan Hemat Cadangan Devisa

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (dua dari kiri) dan Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha Kurnia Toha (empat dari kiri) dalam konferensi pers terkait revisi Undang-Undang Persaingan Usaha di Kantor KPPU, Jakarta Pusat, Selasa, 10 Juli 2018. TEMPO/Fajar Pebrianto

    Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (dua dari kiri) dan Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha Kurnia Toha (empat dari kiri) dalam konferensi pers terkait revisi Undang-Undang Persaingan Usaha di Kantor KPPU, Jakarta Pusat, Selasa, 10 Juli 2018. TEMPO/Fajar Pebrianto

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan saat ini industri dalam negeri mayoritas masih menggunakan bahan baku impor. Ia menjelaskan salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menghemat cadangan devisa negara yaitu dengan mengganti bahan baku tersebut dari industri lokal.

    Simak: Minta Impor Disetop, Jokowi: Saya Gak Main-main

    "Itu kan mesti industri substitusi impor. Substitusi impor kan yang selama ini bahan baku di impor, ya dibuat industri di dalam negeri," kata dia di Gelora Bung Karno, Ahad, 5 Agustus 2018.

    Selain itu, menurut dia cara lain untuk menghemat cadangan devisa yaitu dengan pemanfaatan kelapa sawit untuk biodiesel. Ia menjelaskan dengan biodiesel 20 persen tersebut dapat menghemat devisa sebesar US$ 5,9 miliar.

    "Kedua sektor jasa kita salah satunya kementerian perindustrian mendorong maintenance repair overhaul untuk industri pesawat," ujar dia.

    Airlangga juga berpendapat cadangan devisa dapat dihemat melalui konten lokal atau Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). "Kita lihat lokal konten atau TKDN. Kalau TKDN digenjot itu bisa meningkatkan penghematan sampai dengan US$ 2 miliar," ucap dia.

    Sebelumnya Presiden Joko Widodo atau Jokowi meminta pemakaian biodiesel segera dijalankan. Berdasarkan data yang ia punya, Indonesia berpotensi menghemat devisa dari impor dengan jumlah besar. "Yakni US$ 21 juta setiap harinya," katanya di Kompleks Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Selasa, 31 Juli 2018.

    Jokowi memerintahkan agar para menteri-menteri fokus pada peningkatan ekspor dan pengendalian impor. Ia meminta seluruh kementerian mengevaluasi kembali kebijakan impornya. "Barang yang tidak bersifat strategis perlu kita stop dulu atau kurangi atau diturunkan," ucapnya.

    Terkait TKDN, Jokowi mengeluhkan lambannya implementasi di lapangan. Padahal hal ini sudah dibahas sejak dua tahun lalu. "Tapi dalam implementasinya, dalam pelaksanaannya, ada yang masih setengah-setengah," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Laporan Sementara Dampak Gempa Palu per 20 Oktober 2018

    Laporan sementara dampak Gempa Palu per daerah tingkat II pasca gempa dan tsunami Sulawesi tengah di lima sektor sampai 20 Oktober 2018.