Secara Teknikal, IHSG Diprediksi Melaju pada Pekan Depan

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pialang melintas di depan papan Tampilan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (24/10/2017).Foto Agung Rahmadiansyah/Tempo

    Pialang melintas di depan papan Tampilan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (24/10/2017).Foto Agung Rahmadiansyah/Tempo

    TEMPO.CO, Jakarta - Laju indeks harga saham gabungan atau IHSG pada pekan depan, pekan kedua Agustus 2018, diprediksi masih akan berada dalam tekanan. 

    Analis Reliance Sekuritas Lanjar Nafi mengatakan, secara teknikal, IHSG seakan pulled back upper Bollinger bands dengan menguji MA5 sebagai konfirmasi lebih lanjut pada pergerakan reversal.

    BacaOJK Jelaskan Penyebab Pelemahan IHSG di Triwulan II 2018

    Menurutnya, indikator Stochastic terkonsolidasi setelah dead-cross di area jenuh beli dengan RSI yang memiliki momentum jenuh pada area tinggi.

    "Sehingga diperkirakan IHSG akan kembali bergerak tertekan dengan rentang pergerakan 5.928-6.042," demikian menurut risetnya, seperti dikutip dari Bisnis.com, Ahad, 5 Juli 2018.

    Saham-saham yang masih dapat dicermati di antaranya BDMN, BSDE, INDF, JSMR, TLKM, TRAM, dan ADHI.

    Sementara itu, Vice President Research Department William Surya Wijaya mengatakan potensi IHSG dalam beberapa waktu mendatang masih menunjukkan adanya kekuatan naik yang belum berkurang.

    Baca: Laju IHSG Diprediksi Menguat Tipis

    Dia mengatakan momentum koreksi wajar masih dapat terus dimanfaatkan untuk melakukan akumulasi pembelian mengingat kondisi fundamental perekonomian yang cukup stabil. Demikian juga dengan capital inflow yang terlihat mulai terjadi sepanjang pekan lalu dan berpotensi berlanjut pekan ini. 

    Peluang kenaikan diprediksi masih terlihat dalam pola gerak IHSG pekan depan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).