Susi Pudjiastuti Ancam Pencuri Ikan: Indonesia Tak Akan Kompromi

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, hadir dalam peluncuran kapal berbahan dasar bambu laminasi yang pertama di dunia di Taman Hiburan Pantai (THP) Kenjeran, Surabaya, Senin, 2 Juli 2018. Foto: Humas ITS

    Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, hadir dalam peluncuran kapal berbahan dasar bambu laminasi yang pertama di dunia di Taman Hiburan Pantai (THP) Kenjeran, Surabaya, Senin, 2 Juli 2018. Foto: Humas ITS

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyatakan Indonesia tidak akan mengkompromikan aktivitas penangkapan ikan ilegal yang dilakukan di kawasan perairan nasional.

    BACA: Susi Pudjiastuti: Pencuri Ikan Buron Interpol Diputus Bersalah

    "Indonesia sangat tegas dan tidak berkompromi terhadap kejahatan penangkapan ikan secara ilegal," kata Menteri Susi di Jakarta, Jumat, 2 Agustus 2018.

    Menteri Susi menyebutkan hal tersebut guna mengomentari putusan yang telah dijatuhkan majelis hakim PN Sabang yang memberikan denda kepada warga negara Rusia, Matveev Aleksandr.

    Matveev Aleksandr itu sendiri merupakan kapten kapal ikan STS-50 yang merupakan kapal penangkap ikan berbendera asing, yang juga merupakan buronan dari lembaga Interpol.

    Susi Pudjiastuti menegaskan, penangkapan ikan ilegal apapun bentuknya adalah mengabaikan kedaulatan suatu negara dan Indonesia pasti akan tegas. Mengenai putusan tersebut, Susi menilai bahwa hal itu adalah putusan yang progresif yang bermanfaat untuk menghentikan aktivitas pencurian ikan di Indonesia.

    Sementara itu, Plt Dirjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan KKP Nilanto Perbowo mengemukakan, kapal STS 50 itu melakukan penangkapan ikan ilegal di sejumlah perairan dan pernah melarikan diri dari Mozambik dan China, sebelum akhirnya ditangkap TNI Angkatan Laut.

    Sebelumnya, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Sabang, Provinsi Aceh, menjatuhkan hukuman pidana denda kepada Nahkoda Kapal STS-50, Matveev Aleksandr (56) warga negara Rusia sebesar Rp200 juta.

    Hakim Ketua Zulfikar SH, MH saat membacakan amar putusan di PN Sabang, Kamis, 1 Agustus 2018 menyatakan, terdakwa Matveev Aleksandr terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana perikanan selama berada di wilayah perikanan Republik Indonesia.

    Putusan tersebut menyebutkan apabila denda tersebut tidak dibayarkan maka akan diganti dengan pidana kurungan empat bulan.

    Hakim menegaskan, Matveev Aleksandr telah mengoperasikan kapal penangkap ikan berbendera asing yang tidak memiliki izin penangkapan selama berada di wilayah perikanan Republik Indonesia.

    "Barang bukti berupa satu unit Kapal FV STS-50, peralatan kapal alat GPS beserta perlengkapannya, 150 buah alat tangkap bubu, alat tangkap jaring gill net 600 buah siap pakai dirampas untuk negara," katanya.

    Kapal STS-50 dan IMO 8514772 buronan Interpol bersama 30 ABK-nya ditangkap Kapal Angkatan Laut (KAL) Simeulue dibawah koordinasi TNI-AL Lanal Sabang, Provinsi Aceh di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia, 6 April 2018.

    ANTARA

    Baca berita lainnya tentang Susi Pudjiastuti di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.