Rupiah Diprediksi Menguat Hari Ini di Kisaran Rp 14.482 - Rp 14.463

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi mata uang rupiah . REUTERS/Beawiharta

    Ilustrasi mata uang rupiah . REUTERS/Beawiharta

    TEMPO.CO, Jakarta - Senior Analyst CSA Research Institute Reza Priyambada memprediksi rupiah menguat hari ini. Reza memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 14.482 - Rp 14.463 per dolar Amerika Serikat.

    BACA: Rupiah Diprediksi Menguat Terbatas Hari ini

    "Pergerakan rupiah diperkirakan masih terbuka peluang pelemahan seiring minimnya sentimen positif untuk mengangkatnya," kata Reza dalam keterangan tertulis, Jumat, 3 Agustus 2018.

    Di sisi lain, kata Reza pergerakan dolar AS yang menguat dengan memanfaatkan masih buntunya kesepakatan dagang antara AS dan Cina dapat berimbas pada kembali melemahnya rupiah. Menurut Reza tetap perlu mencermati dan mewaspadai berbagai sentimen yang dapat membuat rupiah kembali melemah.

    Dalam situs resmi Bank Indonesia, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR mencatat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di angka Rp 14.446 pada Kamis, 2 Agustus 2018. Angka tersebut menunjukkan pelemahan 4 poin dari nilai sebelumnya, yaitu Rp 14.442 pada penutupan Rabu, 1 Agustus 2018.

    Sedangkan pada 2 Agustus 2018, kurs jual US$ 1 terhadap rupiah, yaitu Rp 14.518 dan kurs beli Rp 14.374.

    BACA: Jokowi Minta Menterinya Serius: Negara Ini Sedang Butuh Dolar

    Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan salah satu penyebab turunnya nilai tukar rupiah adalah sinyal kuat dari bank sentral AS atau The Fed untuk menaikan bunga acuan pada rapat FOMC September mendatang.

    "Data ekonomi AS yang cukup kuat khususnya pertumbuhan ekonomi kuartal II sebesar 4,1 persen dan pengangguran dikisaran 4 persen memperkuat alasan The Fed segera naikan bunga acuan dua kali tahun ini," kata Bhima saat dihubungi.

    Bhima menilai imbas sentimen The Fed memicu kenaikan Yield Treasury bond 10 tahun yang menyentuh level 3 persen, sementara yield SBN 7,9 persen. Akibat kenaikan yield Treasury ini membuat minat investor asing masuk ke Indonesia menjadi berkurang.

    Baca berita tentang rupiah lainnya di Tempo.co.

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.