Kamis, 15 November 2018

Harga Telur dan Daging Ayam jadi Biang Inflasi di Sumatera Barat

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pedagang menata dagangnya di Pasar Rawamangun, Jakarta, 22 Mei 2018. Menteri Pertanian  Andi Amran Sulaiman meminta Satgas Pangan dapat menelusuri adanya potensi kartel ayam yang memicu harga daging ayam meroket. TEMPO/Tony Hartawan

    Pedagang menata dagangnya di Pasar Rawamangun, Jakarta, 22 Mei 2018. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meminta Satgas Pangan dapat menelusuri adanya potensi kartel ayam yang memicu harga daging ayam meroket. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.COPADANG - Komoditas telur dan daging ayam ras menjadi penyebab inflasi di Sumatera Barat. Per Juli 2018 dua kota yang menjadi barometer perekonomian daerah itu Padang dan Bukittinggi mencatatkan inflasi masing-masing 0,62% dan 0,09%.#

    Simak: Jokowi: Percuma Ekonomi Tumbuh tapi Inflasi Tinggi

    Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar Sukardi menyebutkan dua daerah itu mengalami inflasi didorong kenaikan sejumlah harga kebutuhan pokok seperti telur dan daging ayam ras, yang mengalami kenaikan di berbagai daerah.
     
    “Juli 2018 untuk Kota Padang inflasi 0,62% dan Bukittinggi mengalami inflasi 0,09%,” katanya, Rabu 1 Agustus 2018.
     
    Komoditas telur yang beberapa pekan terakhir hangat dibicarakan mengalami inflasi 8,09% di Padang dan 7,53% di Bukittinggi. Keduanya menyumbang andil inflasi masing – masing 0,06% dan 0,07%.
     
    Kemudian, daging ayam ras mengalami kenaikan harga sebesar 11,12% di Padang dan 6,79% di Bukittinggi, dengan sumbangan inflasi masing – masing 0,10% dan 0,09%.
    Selain dua komoditas itu, inflasi Kota Padang juga disebabkan kenaikan harga bensin, angkutan udara, beras, jengkol, dan biaya bimbingan belajar. Sedangkan di Bukittinggi kenaikan terjadi pada komoditi beras, jengkol, bensin, dan tarif pulsa ponsel.
     
    Adapun, dengan peningkatan inflasi itu, maka laju inflasi kalender dari Januari – Juli 2018 untuk Kota Padang sebesar 2,15% dan Kota Bukittinggi 0,83%. Sedangkan jika diukur dengan membandingkan inflasi bulan yang sama tahun lalu atau year on year (yoy), inflasi Padang tercatat 3,34% dan Bukittinggi sebesar 2,54%.
     
     
    Sukardi menilai laju inflasi tersebut masih sangat terkendali dan sesuai dengan target pemerintah daerah untuk mengejar inflasi rendah dan stabil. Dia juga mengingatkan pemerintah daerah untuk mewaspadai potensi peningkatan inflasi agar inflasi daerah itu lebih terkendali, dengan menjamin ketersediaan pasokan barang, menjaga distribusi dan melakukan pengawasan harga di pasaran.
     
     
    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Horor Pembunuhan Satu Keluarga Di Bekasi

    Satu keluarga dibunuh di Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, pada Selasa, 12 November 2018.