Prabowo Sebut Kemiskinan Naik 50 Persen, Data Bicara Sebaliknya

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto berbicara dalam acara Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional di Jakarta, Jumat, 27 Juli 2018. Acara ini merupakan acara yang digelar Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama guna membahas capres-cawapres yang akan mereka dukung di pilpres 2019. Tempo/Fakhri Hermansyah

    Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto berbicara dalam acara Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional di Jakarta, Jumat, 27 Juli 2018. Acara ini merupakan acara yang digelar Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama guna membahas capres-cawapres yang akan mereka dukung di pilpres 2019. Tempo/Fakhri Hermansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto baru-baru ini menyampaikan bahwa kondisi kemiskinan di Indonesia dalam 5 tahun terakhir semakin parah. Bahkan, setengah dari kekayaan nasional hanya dikuasai oleh segelintir orang. "Kurang lebih 50 persen tambah miskin," kata Prabowo dalam sebuah acara Menara Peninsula, Jakarta Barat, Jumat, 27 Juli 2018.

    Baca: Prabowo Nyatakan Siap Tak Jadi Capres di Pilpres 2019

    Pernyataan Prabowo ini menuai kontroversi. Berdasarkan data versi BPS, angka kemiskinan justru turun dalam lima tahun terakhir.

    Pada 2 Januari 2018 lalu, BPS merilis data kemiskinan penduduk Indonesia per September 2017. Dari data itu, jumlah penduduk miskin Indonesia pada September 2017 tercatat mencapai 26,58 juta orang atau sekitar 10,12 persen dari 268 juta lebih penduduk.

    Jika ditarik hingga 5 tahun ke belakang, jumlah ini menurut data yang dikoleksi BPS, sudah mengalami penurunan. Jumlah penduduk miskin pada September 2012 tercatat mencapai 28,71 juta atau sekitar 11,66 persen. Artinya, penduduk miskin berkurang hingga 2,13 juta atau sekitar 7,4 persen.

    Selain angka kemiskinan, Prabowo menyebut ketimpangan penduduk miskin dan kaya kian lebar. Hal ini ternyata diamini oleh data yang dirilis Oxfam dan INFID.

    Oxfam adalah lembaga internasional yang fokus pada isu kemiskinan. Sementara International NGO Forum on Indonesia Development atau INFID adalah lembaga yang fokus pada penelitian dan advokasi terhadap kebijakan pembangunan di Indonesia.

    Pada Februari 2017, kedua lembaga menerbitkan laporan bersama yang berjudul "Menuju Indonesia yang Lebih Sejahtera." Dari penelitian, kedua lembaga menyatakan bahwa dalam 20 tahun terakhir, di ketimpangan antara kelompok terkaya dan kelompok miskin di Indonesia mengalami peningkatan yang jauh lebih cepat dibanding di negara-negara lain di Asia Tenggara.

    Indonesia berada pada peringkat keenam dalam kategori ketimpangan distribusi kekayaan terburuk di dunia. Pada tahun 2016, sebanyak satu persen masyarakat terkaya di Indonesia menguasai hampir separuh atau sekitar 49 persen total kekayaan. Data ini persis seperti apa yang disampaikan Prabowo.

    Selanjutnya, kekayaan empat orang terkaya di Indonesia sama dengan gabungan kekayaan 100 juta orang termiskin. Dengan demikian, harta penduduk miskin Indonesia yang hanya di kisaran 26 sampai 28 juta bisa dikuasai oleh satu orang terkaya saja. "Hanya dalam waktu sehari, orang Indonesia terkaya dapat meraup bunga dari kekayaannya lebih dari seribu kali lipat jumlah pengeluaran rakyat Indonesia termiskin untuk kebutuhan dasar mereka selama setahun penuh," demikian tulis laporan tersebut.

    Baca berita lainnya tentang Prabowo di Tempo.co.

    FAJAR PEBRIANTO | HENDARTYO HANGGI



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rekaman 8 Menit 46 Detik Drama Kematian George Floyd

    Protes kematian George Floyd berkecamuk dari Minneapolis ke berbagai kota besar lainnya di AS. Garda Nasional dikerahkan. Trump ditandai oleh Twitter.