Rabu, 15 Agustus 2018

Ini Awal Mula Startup Belajar Bahasa Asing 'Bahaso' Lahir

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tak perlu ke luar rumah jika cuma ingin pintar berbahasa Inggris, cukup unduh aplikasi startup Bahaso lewat telepon seluler, metode pengajaran bahasa asing pun bisa diakses.

    Tak perlu ke luar rumah jika cuma ingin pintar berbahasa Inggris, cukup unduh aplikasi startup Bahaso lewat telepon seluler, metode pengajaran bahasa asing pun bisa diakses.

    TEMPO.CO, JAKARTA - Tyovan Ari Widagdo mempunyai cerita unik sebelum menciptakan startup belajar bahas asing bernama Bahaso. Delapan tahun yang lalu, menjadi salah satu moment titik balik penting bagi Tyovan. Pria asal Wonosobo tersebut, “panas dingin” ketika akan bertemu investor asal Jepang untuk menjajakan bisnis bersama.

    Baca: Ini Persiapan Bekraf Agar Startup Segera Listing di Bursa Efek

    “Saya nyerah deh sama yang namannya Bahasa Inggris. Bisa ngerti orang ngomong tapi harus gagap-gagap menimpali ,” kelakar Tyovan ketika ditemui di Bilangan Senayan, Kamis 26 Juli 2018

    Meski penjajakan bisnis dengan investor Jepang tersebut berjalan mulus, Tyovan sadar kemampuan Bahasa Inggrisnya harus terus diasah dengan mengambil kursus bahasa inggris di yang cukup ternama di Jakarta. Namun kursus tak berlangsung lama, bagi dirinya yang sedang berkuliah dan mengembangkan bisnis solusi digital, mengunjungi tempat kursus amat menyita waktu.

    “Orang kerja atau kuliah baru beres sore, dipotong istirahat maghrib dan perjalanan bisa abisin waktu dua jam lebih,” ujarnya. Karena itulah dia mendirikan perusahaan startup belajar bahasa asing bernama Bahaso. Platform yang diciptakan Tyovan bersama rekan sejawatnya di Universitas Bina Nusantara Darwin bisa memudahkan masyarakat belajar di mana saja dan kapan saja.

    Bahaso menyediakan layanan belajar Bahasa Inggris. Pengguna Bahaso bisa mendapat berbagai pembelajaran bahasa inggris dari mulai metode membaca (reading), mendengar (listening), menulis (writing), dan berbicara (speaking). Tingkat kesulitan pembelajaran bagi pengguna juga bisa disesuaikan berdasarkan kebutuhan.

    “Ide kami sebenarnya simple saja meningkatkan akses belajar secara online,” ujar pria yang masih terasa logat medoknya tersebut. Tapi, ujar Tyovan, bukan berarti konten pembelajaran dibuat asal-asalan. Dia pun secara resmi menggandeng Fakultas Ilmu Bahasa Universitas Indonesia sebagai rekan resmi pengembangan dan penyediaan konten belajar.

    “Jadi kalau pengguna sudah lulus les, dapat sertifikat resmi dari UI,” kata dia. Sertifikat tersebut bisa dijadikan rujukan untuk syarat berbagai administrasi seperti penerimaan karyawan baik swasta atau negeri. Untuk kebutuhan khusus seperti sertifikasi IELTS bisa disediakan. Untuk memupuk kepercayaan, Tyovan mengatakan modul dan metode pembelajaran disokong oleh ahli bahasa dan linguistik dari Universitas Indonesia.

    Bagi pengguna yang berminat menggunakan layanan Bahaso, cukup dengan mendaftarkan diri di situr atau aplikasi. Sebelum mendapat materi belajar, Bahaso akan meminta daftar diri dan kebutuhan materi yang diinginkan pengguna. Ihwal urusan tarif, Tyovan mengatakan harga mulai dari Rp 100 ribu per bulan untuk kelas regular. Adapun kelas persiapan IELTS pengguna dipungut Rp 1 juta per bulan. “Kalau kelas IELTS lebih intensif dan kelasnya khusus cuma diisi 7 peserta,” ujar Tyovan.

    Tiga tahun berjalan, sudah ada lebih dari 400 ribu peserta didik di Bahaso. Penggunanya pun terdiri dari berbagai kalangan dari pelajar, mahasiswa, hingga pekerja. Penyesuaian kurikulum yang tak memperbanyak hapalan dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan pengguna inilah yang jadi salah satu kekhususan unik Bahaso. Selain belajaar secara daring, Bahaso juga menjajakan pemberian pelatihan bahasa Inggris offline di perusahaan dan instansi pemerintah.

    Baca: 2018, Pemerintah Targetkan 20 IKM Jadi Startup

    “Pernah suatu saat ada rombongan polisi datang ke kantor, kirain kita ada masalah tidak tahunya markas besar mau kerja sama kasih les ke anggotanya,” kata Tyovan. Meski sudah moncer, bukan berarti Bahaso tak memiliki masalah. Tyovan bercerita waktu pertama kali menjajaki perusahannya ini sempat diragukan oleh berbagai pihak, semisal kampusnya sendiri. Bukan tanpa alasan, konsep yang melandasi tugas akhir skripsinya ini juga sebenarnya mendapat nilai C.

    Ke depannya, Tyovan dan timnya yang berjumlah 22 orang tersebut bakal menyediakan materi bahasa asing lainnya. Bahasa Mandarin rencananya bakal segera bisa digunakan pengguna dalam waktu dekat. Adapun Bahasa Prancis direncanakan online Februari tahun depan. “Bahasa daerah juga mau kami usahakan bisa dipelajari,” katanya.

    Tyovan optimistis startup yang disokong pendanaan pra series oleh PT Telkom ini bisa menarik lebih banyak minat masyarakat. Dia meyakini betul anggapan mempelajari Bahasa Asing itu bisa meningkatkan rezeki seseorang. Walhasil dia bisa yakin banting setir dari perusahaan sebelumnya meski sudah sampai menyediakan layanan komunikasi dan koordinasi yang dipakai di kabinet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

    “Ya tapi saya tidak menjamin 100 persen pengguna jadi mirip orang Amerika, saya saja masih medok-medok ngomong Inggrisnya,” kata Tyovan. Dekan Fakultas Ilmu Budaya UI Adrianus Waworuntu mengatakan tertarik bekerja sama karena konsep yang ditawarkan Bahaso cukup unik bagi kalangan akademisi. “Yang penting bisa terbukti berguna bagi masyarakat,” kata Adrianus.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Fatwa MUI dan Buah Pikir Ma'ruf Amin, Calon Wakil Jokowi

    Beberapa buah pikiran Ma'ruf Amin, Ketua Majelis Ulama Indonesia pilihan Jokowi untuk menjadi wakilnya, yang mengundang komentar publik.