BI Bantah Likuiditas Perbankan Mengetat

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara. TEMPO/Seto Wardhana

    Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara. TEMPO/Seto Wardhana

    TEMPO.CO, Jakarta - Deputi Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara menepis anggapan bahwa likuiditas perbankan sedang mengetat menyusul data pertumbuhan kredit yang kian agresif, sementara pertumbuhan penarikan simpanan hanya moderat.

    Mirza likuiditas masih longgar, tercermin dari transaksi di Pasar Uang Antar Bank (PUAB). Dia mengatakan bunga di PUAB untuk tenor satu bulan telah menurun drastis dari 7,1 persen di awal Juli 2018 menjadi 6,5 persen di akhir Juli 2018.

    "Penurunan bunga transaksi itu menandakan likuiditas tidak seret karena permintaan likuiditas dapat dipenuhi oleh pasokan. Sehabis lebaran likuiditas kembali ke kas bank sehingga terjadi penurunan suku bunga antar bank," ujar dia di Jakarta, Jumat, 27 Juli 2018.

    PUAB merupakan medium transmisi paling sensitif dari penyesuaian suku bunga kebijakan Bank Indonesia atau "7-Day Reverse Repo Rate". Jika suku bunga kebijakan dari Bank Sentral naik, maka suku bunga di PUAB adalah medium pertama yang terpengaruh.

    "Ini menunjukkan walau BI naikin suku bunga tapi likuiditas cukup. PUAB tenor satu bulan turun, tenor lain juga seperti itu," ujar dia.

    Mirza berkilah likuiditas perbankan memang sempat mengetat di pertengahan kuartal II 2018 karena nasabah banyak menarik dana tunai dari perbankan untuk kegiatan konsumsi saat Ramadan dan Lebaran.

    "Maka BI buka fasilitas untuk likuiditas yakni 'term repo' dan 'forex (fx) swap'," ujarnya.

    "Term Repo" dan "FX Swap" merupakan beberapa instrumen operasi moneter BI untuk mengendalikan likuiditas rupiah, dan juga valuta asing.

    Namun, data kinerja dari laporan harian bank umum (LHBU) perbankan hingga akhir Juli 2018 menunjukkan rasio kredit terhadap pendanaan bank (Loan to Funding Ratio/LFR) yang berpotensi naik. Pasalnya, pertumbuhan kredit hingga pekan ketiga Juli 2018 kian agresif sebesar 11,3 persen (year on year/yoy). Sementara pertumbuhan simpanan hanya 6,9 persen (yoy).

    Jika merujuk data terakhir BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pertumbuhan kredit yang tinggi dan simpanan yang moderat sudah terjadi sejak Mei 2018. Pertumbuhan DPK tercatat sebesar 6,7 persen (yoy), sedangkan kredit sebesar 10,2 persen (yoy). Di Juni 2018, menurut data OJK, pertumbuhan kredit perbankan mencapai 10,75 persen (yoy)dan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 6,99 persen (yoy).

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.