Perang Dagang, Sri Mulyani: Ekonomi Dunia Terancam Turun pada Semester II

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan laporan semester 1 APBN 2018 di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, 9 Juli 2018. TEMPO/Friski Riana

    Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan laporan semester 1 APBN 2018 di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, 9 Juli 2018. TEMPO/Friski Riana

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut dinamika perang dagang berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi dunia turun pada semester II 2018. Pada semester I 2018, pertumbuhan ekonomi dunia menginjak 3,9 persen.

    BACA: DPR Sahkan RUU Penerimaan Negara Bukan Pajak

    "Padahal kita berharap growth bisa menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi, tidak hanya dunia, tapi negara-negara bisa mengandalkan investasi dan ekspor," ujar Sri Mulyani di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis, 26 Juli 2018.

    Namun, seiring menghangatnya perang dagang yang terjadi, Sri Mulyani khawatir negara-negara tujuan ekspor bakal memasang barikade yang tinggi, baik berupa tarif, maupun non-tarif. "Itu harus kita waspadai."

    Belum lagi, Cina kini melakukan pelemahan terhadap mata uang Yuan guna mengkompensasi kenaikan tarif 10 persen akibat kebijakan pengenaan tarif oleh Amerika Serikat.

    Padahal, ujar Sri Mulyani, selama ini stabilitas keuangan Yuan adalah jangkar stabilitas di kawasan, maupun dunia. Itu terbukti saat krisis ekonomi terjadi pada 2008 dan 1998. "Yuan dijaga tetap stabil."

    Pengaruh depresiasi Yuan tidak hanya berdampak kepada perdagangan dunia, tetapi juga mata uang dan arus modal. Dampak yang terasa, menurut Sri Mulyani, adalah menurunnya arus modal ke negara emerging.

    "Karena dianggap risikonya meningkat. Karena itu, tadi ada masalah trade, masalah interest rate naik, dan currency naik," ujar Sri Mulyani.

    BACA: Depresiasi Yuan, Sri Mulyani Jelaskan Risikonya Terhadap RI

    karena itu, untuk mengantisipasi gejolak tersebut, Sri Mulyani mengatakan perlunya pengokohan pondasi perekonomian Indonesia. Pertumbuhan ekonomi domestik perlu dijaga, baik dari segi konsumsi maupun belanja negara, melalui APBN.

    "Investasi, sentimennya dapat diperbaiki meskipun dalam situasi kecenderungan interest rate naik dan exchange rate yg dinamis," kata Sri Mulyani.

    Sri Mulyani menegaskan pemerintah tengah mencoba menjangkarkan ekspektasi dan kekhawatiran yang muncul secara mendunia, sehingga Indonesia bisa menjaga momentumnya. Hingga kuartal dua, ia melihat momentum yang ada masih baik.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.