Inflasi Rendah, Gubernur BI Berterima Kasih pada Kepala Daerah

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kiri-kanan, Deputi Gubenur Sugeng, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo,  Deputi Gubernur Rosmaya Hadi sebelum mengelar press briefing mengenai inflasi bulan Juni 2018, di Gedung Bank Indonesia, Gambir, Jakarta Pusat, Jumat, 8 Juni 2018. TEMPO/Dias Prasongko

    Kiri-kanan, Deputi Gubenur Sugeng, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, Deputi Gubernur Rosmaya Hadi sebelum mengelar press briefing mengenai inflasi bulan Juni 2018, di Gedung Bank Indonesia, Gambir, Jakarta Pusat, Jumat, 8 Juni 2018. TEMPO/Dias Prasongko

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur BI Perry Warjiyo berterima kasih kepada kepala daerah atas kerja sama yang terjalin dalam Tim Pengendalian Inflasi, baik di daerah maupun di pusat. Ia menyebut kerja sama itu melahirkan hasil yang nyata, yaitu turunnya tingkat inflasi nasional.

    Baca juga: Gubernur BI Perry Warjiyo: Kebijakan Moneter Akan Tetap Hawkish

    "Sekitar lima tahun lalu inflasi kita sekitar 8,3 persen, sekarang adalah sekitar 3,3 persen," ujar Perry dalam sambutannya pada acara Sarasehan Nasional 2018 bertajuk “Mempercepat Pembangunan Infrastruktur untuk Mewujudkan Stabilitas Harga dan Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif serta Berkualitas”, di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Rabu, 25 Juli 2018.

    Ke depan, Perry mengingatkan perlunya koordinasi yang lebih erat untuk mendorong inflasi lebih rendah. Ia mengharapkan inflasi di 2019 bisa dikendalikan di 3,5 persen dan terus menurun hingga mencapai 3 persen di 2020.

    Sebab, ia meyakini inflasi yang rendah adalah kunci dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat, selain meningkatkan pertumbuhan ekonomi. "Tentu saja itu bagian dari mandat kita, tidak hanya di BI, tapi juga pemerintah pusat dan daerah," kata Perry.

    Perry menyebut ada beberapa tantangan yang harus dicermati dalam mengendalikan inflasi ke depannya. Misalnya, meningkatnya harga minyak serta tingginya harga pangan. Persoalan itu, menurut dia, hanya bisa diselesaikan dengan bersinergi.

    "Kita perlu terus meningkatkan ketersediaan pasokan dari inflasi kita, dalam konteks ini tidak hanya masalah produktivitas, tapi juga ketersediaan infrastruktur di pertanian maupun yang lain," kata Perry. Dengan begitu, produksi pangan dalam negeri bisa ditingkatkan.

    Selain produksi, aspek penting lainnya adalah distribusi. Ada daerah yang mengalami defisit pangan, namun ada pula yang surplus. Sehingga, perdagangan antar daerah perlu segera direalisasikan.

    "Saya mencatat sejumlah pemda sudah menjalin kerja sama di dalam perdagangan antar daerah dalam mendorong ketersediaan pasokan untuk pengendalian inflasi," ujar Perry.

    Pemerintah daerah juga didorong untuk memanfaatkan teknologi terkini untuk mengendalikan inflasi. Harapannya, ada peningkatan produksi, ketersediaan pasokan, distribusi, yang berujung dengan naiknya perekonomian Indonesia, khususnya Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah di daerah.

    Selanjutnya, Perry Warjiyo menyebut perlunya penguatan kelembagaan Tim Pengendali Inflasi baik di pusat maupun daerah. "Tentu saja didukung tata kelola maupun landasan hukum yang jelas, petunjuk teknis yang jelas, maupun pelaksanaannya prosedur yang jelas," kata Gubernur BI tersebut. "Termasuk, adanya dukungan ketersediaan anggaran."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.