Akuisisi Freeport Akan Didanai Bank Asing Karena Alasan Ini

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga saat melakukan aktifitas dulang emas dari air pembuangan limbah tailling PT Freeport yang mengalir melalui Sungai Otomona, Mil 38, Kualakencana, Timika Papua, 28 Oktober 2016. TEMPO/Subekti

    Warga saat melakukan aktifitas dulang emas dari air pembuangan limbah tailling PT Freeport yang mengalir melalui Sungai Otomona, Mil 38, Kualakencana, Timika Papua, 28 Oktober 2016. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Indonesia Asahan Alumunium (Persero) atau Inalum menyatakan telah menerima indicative offer letter atau surat penawaran permulaan dari perusahaan perbankan luar negeri atas pinjaman yang dibutuhkan untuk mengakuisisi 51 persen saham Freeport.

    BACA: Inalum - Freeport Teken Perjanjian, Jokowi: Usahanya Sangat Alot

    "Sudah ada surat yang ditandatangani," ujar Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin, 23 Juli 2018. Namun, ia belum mau membeberkan bank yang dimaksud.

    Budi pun menjelaskan ihwal pemberitaan yang menyatakan bahwa Bank Badan Usaha Milik Negara tidak jadi membiayai transaksi tersebut. Ia mengatakan Inalum memang diminta untuk memprioritaskan pinjaman itu tidak dari dalam negeri.

    "Supaya tidak memberatkan neraca pembayaran dan juga tidak menekan kurs. Dan sekarang kurs kita sedang tertekan," kata Budi.

    Menurut Budi, apabila pinjaman diperoleh dari dalam negeri dan mengalir ke luar negeri dalam transaksi ini, kurs rupiah akan semakin tertekan. "Itu sebabnya kami memahami. Ya sudah, kami akhirnya ambil dari luar negeri, tapi itu cukup," ujar dia.

    Adapun skema yang akan diterapkan dalam pinjaman itu adalah pinjaman bank biasa. Sejauh penawaran yang masuk, pinjaman bisa diperoleh tanpa jaminan. Menurut Budi, bunga yang akan dikenakan juga sangat kompetitif. "Saya belum bisa bilang, tapi lebih murah dari dalam negeri," kata Budi.

    Budi meyakini banyak bank yang mau memberi pinjaman untuk transaksi itu. Sebab, dana pinjaman itu hanya sebesar US$ 3,85 miliar. Nilai tersebut masih di bawah ebitda atau pendapatan kotor Freeport yang sebesar US$ 4 miliar.

    "Kalau di bank, biasanya kalau konservatif, kalau pinjamannya di bawah tiga kali ebitda, dia pasti kasih. Ini masih di bawah satu kali ebitda, semua pasti mau ngasih," kata Budi.

    BACA: Akuisisi Freeport oleh Inalum Akan Dibiayai Perbankan

    Sebelumnya, PT Inalum menyatakan ada sebelas bank yang siap membantu mendanai pembelian 51 persen saham PT Freeport Indonesia. Nilai transaksi yang dibutuhkan yaitu sebesar US$ 3,85 miliar. Inalum akan menggelontorkan US$ 3,5 miliar untuk membeli 40 persen hak partisipasi Rio Tinto di PT Freeport Indonesia.

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kerusuhan Manokwari, Bermula dari Malang Menjalar ke Sorong

    Pada 19 Agustus 2019, insiden Kerusuhan Manokwari menjalar ke Sorong. Berikut kilas balik insiden di Manokwari yang bermula dari Malang itu.