Pekan Ini, BMKG Prediksi Gelombang Laut setinggi 2,5-6 Meter

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas berjaga di kawasan Pantai Waterblow yang ditutup di kawasan Nusa Dua, Badung, Bali, Jumat, 20 Juli 2018. Pengelola Pantai Waterblow menutup sementara obyek wisata tersebut karena terjadi gelombang laut tinggi beberapa hari terakhir. ANTARA/Fikri Yusuf

    Petugas berjaga di kawasan Pantai Waterblow yang ditutup di kawasan Nusa Dua, Badung, Bali, Jumat, 20 Juli 2018. Pengelola Pantai Waterblow menutup sementara obyek wisata tersebut karena terjadi gelombang laut tinggi beberapa hari terakhir. ANTARA/Fikri Yusuf

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan akan terjadi gelombang setinggi 2,5 - 6 meter pada tanggal 23 - 28 Juli 2018.  "Puncak ekstrem diperkirakan terjadi pada tanggal 24-25 juli 2018," ujar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam keterangan tertulis yang diterima Tempo, Senin, 23 Juli 2018.

    Baca: BMKG: Ini Alasan Kenapa Jawa Barat Lebih Dingin Saat Kemarau

    BMKG mencatat gelombang setinggi 4-6 meter akan terjadi di daerah Perairan Sabang, Perairan Utara dan Barat Aceh, Perairan Barat Pulau Simeulue hingga Kepukauan Mentawai, Peairan Barat Bengkulu hingga Lampung, Samudera Hindia Barat Sumatera, Selat Sunda Bagian Selatan, serta Perairan Selatan Jawa hingga Pulau Sumba. Selama 24-25 Juli 2018, gelombang tinggi juga ditemukan di Selat Bali-Selat Lombok-Selat Alas Bagian Selatan, Samudera Hindia Selatan Jawa hingga Nusa Tenggara Barat.

    Daerah yang diprediksi terjadi gelombang 1,25-2,5 meter alias sangat waspada pada tanggal 23-28 Juli 2018, kata Dwikorita, antara lain Laut Jawa Bagian Timur, Perairan Timur Kotabaru, Selat Makassar Bagian Selatan, Laut Flores, Perairan Baubau- Kepulauan Wakatobi, dan Laut Banda. Serta, Perairan Selatan Pulau Buru-Pulau Seram, Perairan Kepulauan Kei-Kepulauan Aru, Perairan Kepulauan Babar-Kepulauan Tanimbar, dan Perairan Yos Sudarso.

    Sedangkan tinggi gelombang 2,5-4 meter atau predikat berbahaya, berpeluang terjadi di Perairan Sabang, Perairan Utara dan Barat Aceh, Perairan Barat Pulau Simeulue hingga Kepukauan Mentawai, serta Perairan Barat Bengkulu hingga Lampung. Lalu, Selat Sunda Bagian Selatan, Perairan Selatan Jawa hingga Pulau Sumbawa, Selat Bali-Selat Lombok-Selat Alas Bagian Selatan, Perairan Selatan Pulau Sumba, Laut Sawu dan Perairan Selatan-Pulau Rote.

    Baca: Heboh Fenomena Embun Es, Begini Penjelasan BMKG

    Dwikorita mengatakan kondisi tekanan tinggi yang bertahan di Samudera Hindia, yakni di Barat Australia. Kondisi ini dikenal dengan istilah Mascarene High, yang memicu terjadinya gelombang tinggi di perairan selatan Indonesia. Hal tersebut disebabkan oleh kecepatan angin yang tinggi di sekitar wilayah selatan Mascarene High di Samudera Hindia dan terjadinya swell/alun yang dibangkitkan oleh Mascarene High menjalar hingga wilayah Perairan Barat Sumatera, Selatan Jawa hingga Pulau Sumba.

    "Kondisi tersebut juga berdampak pada peningkatan tinggi gelombang laut hingga berkisar 4-6 meter di Perairan Jawa hingga Nusa Tenggara," tutur BMKG.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.