Rupiah Diprediksi Bergerak antara Rp 14.469 - Rp 14.548

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kurs rupiah dan mata uang Indonesia. Getty Images

    Ilustrasi kurs rupiah dan mata uang Indonesia. Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Senior Analyst CSA Research Institute Reza Priyambada memprediksi rupiah masih akan tertekan hari ini. Reza memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp 14.548 - Rp 14.469.

    BACA:Soal Rupiah, BI: Badan Kita Sehat, Cuma Ini Ada Angin dari Luar

    "Meski terdapat sejumlah sentimen yang dinilai positif namun, secara riilnya tidak banyak berpengaruh pada pergerakan rupiah," kata Reza Priyambada, Minggu malam, 22 Juli 2018.

    Reza mengatakan setelah terjadinya perang dagang, kali ini muncul perang mata uang terutama dolar Amerika Serikat (USD) dan yuan Cina (CNY). Di mana Bank Sentral Cina akan melemahkan mata uangnya untuk membantu ekspor Cina sebagai antisipasi imbas perang dagang dengan dolar AS.

    "Mikhawatirkan mata uang rupiah akan terhimpit sehingga sulit untuk merespon berita positif dari dalam negeri," kata Reza.

    Untuk itu menurut Reza tetap perlu mencermati dan mewaspadai berbagai sentimen yang dapat membuat rupiah kembali melemah.

    Dalam situs resmi Bank Indonesia, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR mencatat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di angka Rp 14.520 pada Jumat, 20 Juli 2018. Angka tersebut menunjukkan pelemahan 102 poin dari nilai sebelumnya, yaitu Rp 14.418 pada penutupan Kamis, 19 Juli 2018.

    Sedangkan pada 20 Juli 2018, kurs jual US$ 1 terhadap rupiah, yaitu Rp 14.593 dan kurs beli Rp 14.447.

    BACA: Soal Rupiah, Bambang Brodjonegoro: Harus Perbaiki Defisit Transaksi Berjalan

    Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan rupiah juga masih akan melemah hari ini. Bhima memperkirakan rupiah akan bergerak di  kisaran 14.420 - Rp 14.560

    Bhima mengatakan perang dagang berlanjut ke perang mata uang setelah Cina melakukan devaluasi yuan untuk menjaga daya saing produk ekspornya. Kondisi ini, menurut Bhima memperburuk negosiasi bilateral AS - Cina.

    "Dolar index yang sebelumnya naik ke level 95,3 kini mulai menurun ke 94. Dolar index yag turun menunjukan kurs Dolar AS tertekan dibandingkan mata uang dominan lainnya seperti euro dan yen," kata Bhima.

    Baca berita tentang Rupiah lainnya di Tempo.co.

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.